Dalam ilmu balaghah,
sebuah kata tidak selalu digunakan hanya untuk menunjukkan makna asalnya.
Kadang-kadang suatu kata digunakan sesuai dengan makna yang sejak awal
ditetapkan untuknya. Penggunaan seperti ini disebut hakikat (الحقيقة). Namun, dalam konteks tertentu, sebuah kata dapat digunakan
untuk menunjukkan makna lain yang memiliki hubungan dengan makna asalnya,
disertai petunjuk yang menghalangi pemahaman terhadap makna asli. Penggunaan
seperti ini disebut majaz (المجاز).
 |
| Hakikat dan Majaz |
Pembahasan hakikat dan
majaz merupakan bagian penting dalam ‘ilm al-bayān (علم البيان), karena membantu seseorang memahami bagaimana bahasa Arab
menyampaikan suatu makna secara langsung maupun melalui ungkapan yang bersifat
figuratif.
A. Pengertian
Hakikat (الحقيقة)
1. Pengertian secara
bahasa
Secara bahasa, hakikat
berkaitan dengan sesuatu yang benar, tetap, atau sesuai dengan keadaan
sebenarnya.
Dalam pembahasan
balaghah, hakikat berhubungan dengan penggunaan suatu lafaz sesuai dengan makna
yang telah ditetapkan untuknya dalam konteks penggunaan bahasa tersebut.
2. Pengertian secara
istilah
Secara istilah,
hakikat adalah:
اِسْتِعْمَالُ اللَّفْظِ فِيمَا وُضِعَ
لَهُ فِي اصْطِلَاحِ التَّخَاطُبِ
Artinya: menggunakan
suatu lafaz sesuai dengan makna yang ditetapkan baginya dalam istilah
komunikasi yang berlaku.
Contoh:
رَأَيْتُ أَسَدًا فِي الْغَابَةِ
“Aku melihat seekor
singa di hutan.”
Kata (أَسَدًا) pada kalimat tersebut digunakan dalam makna aslinya, yaitu
singa sebagai hewan. Oleh karena itu, penggunaannya disebut hakikat.
B. Macam-Macam
Hakikat
Dalam kajian balaghah
dan ilmu bahasa Arab, hakikat dapat dibedakan berdasarkan asal penetapan
maknanya.
1. Hakikat Lughawiyah
(الحقيقة اللغوية)
Hakikat lughawiyah
adalah penggunaan lafaz sesuai dengan makna yang ditetapkan dalam bahasa.
Contoh:
رَأَيْتُ أَسَدًا
“Saya melihat seekor
singa.”
Kata (أَسَدٌ) digunakan untuk menunjukkan hewan buas yang dikenal sebagai
singa. Ini merupakan penggunaan berdasarkan makna bahasa.
Contoh lainnya:
رَأَيْتُ كِتَابًا
“Saya melihat sebuah
buku.”
Kata (كِتَابٌ) digunakan sesuai dengan makna yang dikenal dalam bahasa.
2. Hakikat Syar'iyyah
(الحقيقة الشرعية)
Hakikat syar'iyyah
adalah lafaz yang memperoleh makna khusus berdasarkan penggunaan dalam syariat.
Contohnya adalah kata:
الصَّلَاةُ
Secara bahasa, shalat
berkaitan dengan doa. Namun dalam istilah syariat, (الصلاة) digunakan untuk menunjuk ibadah tertentu yang dimulai dengan
takbir dan diakhiri dengan salam.
Demikian pula:
·
Shaum = tidak makan dan minum dengan ketentuan syariat.
·
Zakat = kewajiban mengeluarkan harta dengan ketentuan
tertentu.
·
Hajji = ibadah tertentu ke Baitullah dengan tata cara
yang telah ditetapkan.
Karena itu, makna kata
tersebut harus dipahami berdasarkan konteks penggunaannya. Pembagian hakikat
menjadi lughawiyah, syar'iyyah, dan 'urfiyyah juga dikenal dalam pembahasan
ilmu bahasa dan ushul.
3. Hakikat 'Urfiyyah
'Ammah (الحقيقة العرفية
العامة)
Hakikat 'urfiyyah
'ammah adalah penggunaan suatu lafaz berdasarkan kebiasaan masyarakat secara
umum.
Misalnya kata (دَابَّةٌ). Secara bahasa, kata tersebut dapat digunakan untuk sesuatu
yang berjalan atau bergerak di atas bumi. Namun dalam penggunaan masyarakat
tertentu, kata tersebut dapat dipahami secara lebih khusus sebagai hewan
tunggangan atau hewan. Makna yang dipahami berdasarkan kebiasaan umum tersebut
termasuk penggunaan 'urfiyah.
4. Hakikat 'Urfiyyah
Khassah (الحقيقة العرفية
الخاصة)
Hakikat 'urfiyyah
khassah adalah penggunaan suatu istilah berdasarkan kebiasaan khusus kelompok
atau bidang tertentu.
Contohnya dalam ilmu
nahwu terdapat lafaz (مُبْتَدَأٌ), (خَبَرٌ),
dan (فَاعِلٌ). Kata-kata tersebut memiliki makna
bahasa, tetapi dalam kalangan ahli nahwu mempunyai pengertian teknis tertentu. Hal
yang sama terjadi dalam berbagai bidang ilmu.
C. Pengertian Majaz
(المجاز)
Jika hakikat
menggunakan lafaz sesuai dengan makna asalnya, maka majaz menggunakan lafaz
tidak pada makna asalnya.
Definisi yang umum
digunakan dalam ilmu balaghah adalah:
الْمَجَازُ هُوَ اللَّفْظُ
الْمُسْتَعْمَلُ فِي غَيْرِ مَا وُضِعَ لَهُ لِعَلَاقَةٍ مَعَ قَرِينَةٍ مَانِعَةٍ
مِنْ إِرَادَةِ الْمَعْنَى الْأَصْلِيِّ
Artinya:
Majaz adalah lafaz
yang digunakan bukan pada makna yang ditetapkan untuknya, karena adanya suatu
hubungan ('alāqah), disertai qarinah yang menghalangi pemahaman terhadap makna
asal.
Jadi, terdapat dua
unsur penting dalam majaz:
1.
‘Alaqah (عَلَاقَةٌ), yaitu hubungan antara makna asli dan
makna yang dimaksud.
2.
Qarinah (قَرِينَةٌ), yaitu petunjuk yang menghalangi kita
memahami lafaz dengan makna aslinya.
Perhatikan dua kalimat
berikut:
رَأَيْتُ أَسَدًا فِي الْغَابَةِ
“Saya melihat seekor
singa di hutan.”
رَأَيْتُ أَسَدًا فِي الْمَعْرَكَةِ
“Saya melihat seekor
singa di medan perang.”
Kata (أَسَدًا) berarti singa yang sebenarnya. Adapun pada kalimat kedua,
konteksnya adalah seorang manusia yang pemberani, maka (أَسَدًا) tidak dimaksudkan sebagai hewan singa, melainkan orang yang
sangat berani.
Hubungan singa dan
orang pemberani adalah keserupaan dalam hal keberanian. Petunjuk seperti (فِي الْمَعْرَكَةِ) membantu mencegah pemahaman bahwa yang dimaksud benar-benar
seekor singa. Contoh semacam ini digunakan untuk menjelaskan hubungan antara
makna hakiki dan majazi.
D. 'Alāqah dalam
Majaz
'Alāqah (عَلَاقَةٌ) berarti hubungan antara makna asli dan makna yang dimaksud. Secara
umum, hubungan tersebut dapat berupa:
1. Hubungan Keserupaan
(المشابهة)
Hubungan ini terjadi
apabila makna majazi memiliki kesamaan dengan makna hakiki.
Contohnya:
رَأَيْتُ أَسَدًا يَرْمِي
“Saya melihat singa
yang sedang melempar.”
Yang dimaksud dengan (أَسَدًا) adalah seorang laki-laki pemberani. Hubungannya adalah
keserupaan dalam hal keberanian.
Majaz yang hubungan
antara kedua maknanya berupa keserupaan disebut isti'arah (استعارة).
2. Hubungan Bukan
Keserupaan (غير المشابهة)
Tidak semua majaz
didasarkan pada kesamaan. Ada pula hubungan lain, seperti:
·
sebab dan akibat,
·
keseluruhan dan sebagian,
·
tempat dan sesuatu yang berada di dalamnya,
·
sesuatu yang telah terjadi dan sesuatu yang akan terjadi,
·
dan hubungan-hubungan lainnya.
Majaz yang hubungan
antara makna asli dan makna majazinya bukan keserupaan disebut majaz mursal (المجاز المرسل).
E. Qarinah (القرينة)
Selain 'alāqah, majaz
membutuhkan qarinah. Qarinah adalah petunjuk yang membuat kita tidak memahami
lafaz berdasarkan makna aslinya. Qarinah dapat berupa:
1. Qarinah Lafziyyah (القرينة اللفظية)
Qarinah yang terdapat
dalam kata-kata atau susunan kalimat.
Contoh:
رَأَيْتُ أَسَدًا يَرْمِي
“aku melihat singa
yang sedang memanah.”
Kata (يَرْمِي) yang artinya memanah menjadi petunjuk bahwa kata (أَسَدًا) bukan singa dalam makna sebenarnya, melainkan manusia yang
memiliki keberanian seperti singa.
Dalam contoh lain:
رَأَيْتُ الْبَدْرَ فِي الدَّارِ
“Saya melihat bulan
purnama di rumah.”
Jika yang dimaksud
adalah seseorang yang wajahnya sangat indah, maka konteks kalimat menjadi
qarinah yang menghalangi makna literal.
2. Qarinah Haliyyah (القرينة الحالية)
Qarinah yang dipahami
dari keadaan atau situasi, bukan semata-mata dari kata yang terdapat dalam
kalimat. Dengan demikian, seseorang perlu memperhatikan konteks pembicaraan
untuk memahami maksud sebenarnya.
إِنَّ
الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ
"Sesungguhnya
orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan
(surga)."
Indikator bahwa kata
na'im diartikan sebagai "surga" (tempat) tidak disebutkan secara
tersurat lewat kata lain di dalam lafaz ayat tersebut. Melainkan dipahami dari
keadaan/konteks bahwa manusia secara nyata akan ditempatkan di sebuah tempat fisik
penuh kenikmatan kelak di akhirat, yaitu surga.
F. Pembagian Majaz
Dalam pembahasan
balaghah, majaz dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu majaz lughawi
dan majaz ‘aqli.
1. Majaz Lughawi (المجاز اللغوي)
Majaz lughawi terjadi
ketika sebuah lafaz digunakan bukan pada makna asalnya. Perpindahan tersebut
harus mempunyai hubungan dan qarinah. Majaz lughawi terbagi menjadi dua:
a. Isti'arah (الاستعارة)
Jika hubungan antara
makna asli dan makna majazi adalah keserupaan, maka disebut isti'arah.
Contoh:
رَأَيْتُ أَسَدًا يَرْمِي
“ Aku melihat singa
yang sedang melempar.”
Kata (أَسَدٌ) secara hakikat berarti singa. Namun dalam kalimat tersebut
yang dimaksud adalah seorang manusia pemberani. Terjadi peminjaman kata (أَسَدٌ) untuk manusia yang memiliki sifat berani seperti singa. Dalam
isti'arah, salah satu karakteristik pentingnya adalah adanya unsur perbandingan
yang tidak disebutkan secara lengkap sebagaimana dalam tasybih.
b. Majaz Mursal (المجاز المرسل)
Majaz mursal adalah
penggunaan lafaz bukan pada makna asalnya dengan hubungan yang bukan berupa
keserupaan. Misalnya hubungan:
·
sebab (السَّبَبِيَّة),
·
akibat (المُسَبَّبِيَّة),
·
sebagian (الجُزْئِيَّة),
·
keseluruhan (الكُلِّيَّة),
·
tempat (المَحَلِّيَّة),
·
sesuatu yang berada di tempat (الحَالِّيَّة),
·
dan hubungan lainnya.
Contoh majaz mursal:
وَإِنِّي
كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آَذَانِهِمْ
...
Artinya:
“Dan Sesungguhnya setiap kali Aku menyeru
mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan (anak
jari mereka) ke dalam telinganya. (QS. Nuh [71]: 7).
Lafaz (أَصَابِعَهُمْ) yang
artinya jari-jari tangan pada ayat di atas maksudnya adalah (الأَنَامِلُ) yang artinya ujung jari. Qarinahnya karena seseorang tidak
mungkin memasukkan semua jari tangannya ke dalam telinganya, tetapi yang
dimasukkan adalah ujung jari.
-----------------------
Pembahasan lebih panjang tentang majaz mursal
silakan klik (majaz
mursal dalam balaghah)
-----------------------
2. Majaz 'Aqli (المجاز العقلي)
Berbeda dengan majaz
lughawi yang berkaitan dengan pemakaian sebuah lafaz, majaz 'aqli berkaitan
dengan penyandaran suatu perbuatan atau makna kepada sesuatu yang bukan pelaku
sebenarnya, tetapi terdapat hubungan dan qarinah.
Contoh:
بَنَى الْوَزِيرُ الْمَدْرَسَةَ
“Menteri membangun
sekolah.”
Secara kenyataan,
menteri biasanya bukan orang yang secara fisik mengangkat batu, memasang
tembok, dan mengerjakan bangunan. Pekerjaan tersebut dilakukan oleh para
pekerja. Namun pembangunan tersebut dapat disandarkan kepada menteri karena ia
menjadi pihak yang memerintahkan, mengelola, atau bertanggung jawab terhadap
pembangunan.
Karena itu,
penyandaran (بَنَى) kepada (الْوَزِيرُ) dapat
dipahami sebagai majaz 'aqli dalam konteks yang sesuai.
G. Kesimpulan Perbedaan
Hakikat dan Majaz
Agar lebih mudah
dipahami, perhatikan tabel berikut.
|
Aspek
|
Hakikat
|
Majaz
|
|
Penggunaan lafaz
|
Sesuai makna asal
|
Tidak sesuai makna asal
|
|
Hubungan makna
|
Tidak membutuhkan perpindahan makna
|
Memiliki 'alāqah
|
|
Qarinah
|
Tidak menjadi syarat untuk mengalihkan makna
|
Diperlukan untuk mencegah makna asli
|
|
Contoh
|
رَأَيْتُ أَسَدًا
فِي الْغَابَةِ
|
رَأَيْتُ أَسَدًا
فِي الْمَعْرَكَةِ
|
|
Makna
|
Singa sebenarnya
|
Orang pemberani
|
|
Fungsi
|
Penyampaian langsung
|
Penyampaian figuratif/retoris
|
Dengan demikian,
perbedaan paling mendasar adalah cara lafaz digunakan. Hakikat mempertahankan
makna yang menjadi tujuan asal lafaz, sedangkan majaz memindahkan penggunaan
lafaz kepada makna lain berdasarkan hubungan tertentu dan dengan adanya
qarinah.
Kajian hakikat dan
majaz sangat penting dalam memahami gaya bahasa Al-Qur'an. Sebuah lafaz tidak
selalu cukup dipahami hanya dengan menerjemahkannya secara harfiah. Konteks
ayat, susunan bahasa, hubungan antarkata, dan qarinah perlu diperhatikan.
Misalnya ungkapan:
مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
“Dari kegelapan menuju
cahaya.”
Jika dipahami secara
literal, seseorang mungkin membayangkan perpindahan dari tempat yang gelap
menuju tempat yang terang. Namun dalam konteks tertentu, (الظُّلُمَاتِ) dapat menggambarkan kesesatan, sedangkan (النُّورِ) menggambarkan petunjuk. Makna tersebut dipahami melalui
konteks keseluruhan ungkapan. Contoh ini juga dibahas dalam materi hakikat dan
majaz pada referensi yang diberikan.
Karena itu, pemahaman
terhadap majaz sangat membantu ketika seseorang mempelajari tafsir, hadis,
sastra Arab, dan teks-teks keislaman berbahasa Arab.
***
Referensi
·
HaHuwa: Majaz
Mursal, Isti’arah,
Majaz ‘Aqli
·
Al-Khoirot –
Hakikat dan Majaz dalam Ilmu Balaghah
·
Al-Maktabah Al-Syamilah – المنهاج الواضح للبلاغة
·
Loghate – الحقيقة والمجاز في البلاغة
·
Alukah – الحقيقة والمجاز مع الأمثلة
Belum ada tanggapan untuk "Hakikat dan Majaz dalam Ilmu Balaghah: Pengertian, Macam-Macam, Contoh, dan Perbedaannya"
Post a Comment