Salah satu kata yang
unik dalam bahasa Arab adalah kata (مَا).
Kata (مَا) mempunyai makna dan fungsi yang banyak
tergantung konteks kalimatnya. Oleh karena itu, penting
bagi kita untuk memahami macam-macam (مَا) dalam kaidah bahasa Arab.
 |
| Macam-macam Maa |
▪ Kata
(مَا) Sebagai Isim
1. Maa
Istifhamiyyah (مَا الاِسْتِفْهَامِيَّة)
Digunakan untuk
menanyakan sesuatu yang tidak berakal (benda, konsep, atau sifat). Artinya:
"Apa?"
Contoh:
وَمَا تِلْكَ
بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى
"Apakah
itu yang di tangan kananmu, wahai Musa?" (Thaha:17)
Catatan:
Jika didahului huruf
jar, alif-nya biasanya dibuang. Contoh: لِمَ (- untuk apa/mengapa), بِمَ (dengan apa).
2. Maa Maushulah
(مَا المَوْصُوْلَة)
Berfungsi sebagai kata
penghubung yang menggantikan kata benda tak berakal. Artinya: "Apa
yang..." atau "Sesuatu yang..."
Contoh:
أَعْجَبَنِي مَا اشْتَرَيْتَ
“Saya suka apa yang
kamu beli.”
3. Maa
Syarthiyyah (مَا الشَّرْطِيَّة)
Digunakan sebagai kata
penghubung sebab-akibat (kondisional) untuk benda mati. Artinya: "Apa saja
yang..." atau "Apapun..."
Contoh:
وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ
“Dan apa saja kebaikan yang kamu
kerjakan, niscaya Allah mengetahuinya.”
4. Maa
Ta'ajjubiyyah (مَا التَّعَجُّبِيَّة)
Digunakan untuk
mengekspresikan rasa kagum atau heran. Biasanya masuk dalam pola kalimat مَا أَفْعَلَ .Artinya:
"Alangkah..." atau "Betapa..."
Contoh:
مَا أَجْمَلَ وَجْهَكِ
“Betapa cantiknya
wahjahmu”
5. Maa nakiroh
( نكرة ما)
Mempunyai makna
nakiroh dan mengharuskan adanya sesuatu yang menyifati kenakirohannya
Contoh:
مَرَرْتُ بِمَا
مُعْجِبٍ لَكَ
“Aku berjalan dengan
sesuatu yang membuatmu takjub”
6. Maa
Ibhamiyyah (ما الإبهامية)
Adalah huruf Maa yang
berfungsi untuk menyatakan makna "sesuatu yang belum jelas" atau
"tidak tertentu" (ambigu). Dalam gramatika bahasa Arab, Maa jenis ini
biasanya disandingkan (diberikan) setelah isim (kata benda) nakirah.
Contoh:
جَاءَ أَخُوْكَ لِأَمْرٍ مَا
"Saudaramu datang
karena suatu urusan yang tidak jelas/tertentu."
▪ Kata
(مَا) Sebagai Huruf
Maa (مَا) jenis ini murni berfungsi sebagai
huruf/kata tugas dan tidak memiliki kedudukan i'rab tersendiri.
1. Maa Nafiyah (مَا النَّافِيَة)
Digunakan untuk
menyangkal suatu perbuatan atau keadaan. Artinya: "Tidak" atau
"Bukan".
Contoh:
مَا حَضَرَ زَيْدٌ
“Zaid tidak
hadir.”
2. Maa Nafiyah
Muhmilah (ما نافية مهملة)
Yaitu maa yang
terletak sebelum mubtada khabar yang rafa dan mempunyai makna nafi (tidak)
Contoh:
مَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُوْلٌ
“Tidaklah Muhammad
hanyalah seorang rasul”
3. Maa Saudaranya
Laisa (ليس )
Yaitu maa yang beramal
seperti (كَانَ) yakni
merafa’kan isim dan menashabkan khabar.
Contoh:
مَا زَيْدٌ قَائَماً
“Zaid bukanlah orang
yang berdiri”
4. Maa Mashdariyyah (مَا المَصْدَرِيَّة)
Digunakan untuk
membentuk mashdar mu’awwal. Secara sederhana, jika kita menggabungkan (ما) dengan
kata kerja di belakangnya, susunan tersebut memiliki makna yang setara dengan
kata dasar (mashdar) dari kata kerja itu sendiri. Maa masdariyah terbagi
menjadi dua kategori utama berdasarkan konteks waktunya:
• Maa
Masdariyah Ghoiru Zharafiyah (غير ظرفية)
Maa masdariyah yang
tidak mengandung makna durasi atau batasan waktu.
Contoh:
يَسُرُّنِي مَا تَجْتَهِدُ
“Kesungguhanmu
membahagiakanku.”
* Secara harfiah “membahagiakanku
apa yang kamu sungguh-sungguhi”. Dalam kalimat ini, Ma + Fi'il ditakwil menjadi
masdar ijtihad (kesungguhan).
• Maa
Masdariyah Zharafiyah (ظرفية)
Ma masdariyah yang
mengandung makna durasi atau ukuran waktu (berarti "selama").
Contoh:
سَأَجْتَهِدُ مَا دُمْتُ حَيًّا
“Saya akan
bersungguh-sungguh selama saya hidup.”
5. Maa Al-Kaffah (مَا الكَّافَّة)
Maa yang masuk pada
amil seperti (إِنَّ) dan
saudaranya untuk menghentikan fungsi sintaksisnya. Pengaruhnya adalah (إِنَّ)
yang tadinya hanya bisa masuk ke kalimat isim, jadi bisa masuk ke kalimat fi'il
(kata kerja). Artinya biasanya menjadi pembatasan: "Hanya/Hanyalah".
Contoh:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya
orang-orang mukmin itu hanyalah bersaudara.”
Tanpa Maa, kata
al-mu'minuuna harusnya dibaca al-mu'miniina.
6. Maa Zaidah (مَا الزَّائِدَة)
Secara struktur tata
bahasa, maa ini berfungsi taukid atau penguat arti dalam kalimat. Biasanya
terletak setelah kata tertentu seperti (إِذَا), (مِنْ),
atau (عَنْ).
Contoh:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ
“Maka disebabkan
rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.”
* Asalnya: Fa
bi-rahmatin.
***
Penting bagi agar
teliti ketika memahami dan memaknai kata ini. Para ulama bahasa sangat teliti
dalam memahami huruf, struktur, dan konteks Al-Qur’an. Sebab perubahan kecil
dalam susunan bahasa dapat menghasilkan perbedaan makna yang sangat dalam.
Belum ada tanggapan untuk "Macam-macam Maa (مَا) dalam Bahasa Arab"
Post a Comment