Home · Tajwid · Sharaf · Nahwu · Balaghah · Do'a · Daftar Isi

Ilmu Badi' (Pengertian dan Ruang Lingkup) Dalam Balaghah

A. Pengertian Ilmu Badi’

Ilmu badi' merupakan cabang dari ilmu balaghah. Secara bahasa, badi’ diartikan menciptakan sesuatu yang baru, modern, dan asing. Dalam Al-Quran disebutkan:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ

Artinya: (Allah) pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu. (QS. Al-Baqarah: 117)

Ilmu Badi

Adapun dalam istilah ilmu balaghah, ilmu badi’ adalah ilmu yang mempelajari tentang keindahan suatu kalimat baik dari segi lafaz maupun makna.

Dari pengertian di atas, dapat kita fahami bahwa tujuan mempelajari ilmu badi’ adalah agar pembicaraan kita enak didengar oleh mustami’. Tentunya agar pembicaraan kita indah, kita harus memilih diksi kata yang tepat baik dilihat dari segi pelafalan maupun maknanya.

B. Bahasan Ilmu Badi’

Dalam ilmu badi’, ada dua tema bahasan, yaitu muhassinatul lafhdziyyah dan muhassinatul ma’nawiyyah.

1. Muhassinat Lafdziyyah

Muhassinatul lafdziyyah adalah cara untuk memperindah kata dari segi pelafalan atau bunyinya.

a. Jinas

Jinas adalah penggunaan dua kata dalam sama atau mirip satu ungkapan namun berbeda dalam maknanya. Ada dua macam jinas, yaitu:

1). Jinas tam, yaitu dua kata yang sama pengucapannya dalam empat hal, yaitu: jenis huruf, harakat huruf, jumlah huruf dan urutan huruf. Dari keempat tersebut ada yang perlu diketahui bahwa huruf tambahan selain dalam shighat tashrif seperti alif lam ta’rif dan juga harakat terakhir tidak termasuk kategori 4 hal tersebut.

Contoh di Al-Qur’an:

وَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُوْنَ مَا لَبِثُوْا غَيْرَ سَاعَةٍ كَذَالِكَ كَانُواْ يُؤْفَكُوْن

Artinya: “Dan pada hari (ketika) terjadinya kiamat, orang-orang yang berdosa bersumpah, bahwa mereka berdiam (dalam kubur) hanya sesaat saja. Begitulah dahulu mereka dipalingkan dari kebenaran.” (QS. Ar-Rum: 55)

2). Jinas ghair tam, yaitu dua kata yang mirip pengucapannya tetapi tidak sama pada salah satu dari empat hal, yaitu: jenis huruf, harakat huruf, jumlah huruf dan urutan huruf.

Contoh:

ذَلِكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَفْرَحُوْنَ فِيْ الأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَمْرَحُوْنَ

Artinya: "Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria (dalam kemaksiatan). (QS. Ghafir: 75)

b. Iqtibas

Iqtibas adalah mengutip suatu kalimat dari Al-Qur’an atau Hadist, lalu disisipkan ke dalam prosa atau syair tanpa dijelaskan bahwa kalimat yang dikutip tersebut diambil dari Al-Qur’an dan Hadist.

Contoh:

لاَ تَغُرَّنَّكَ مِن الظَّلَمَةِ كَثْرَةُ الْجُيُوْشِ وَالْأَنْصَارِ (إِنَّمَا نُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيْهِ الْأَبْصَارُ)  

Artinya: Jangan engkau tertipu daya dalam kezaliman dengan banyaknya bala tentara dan pelindung, sesungguhnya kami tangguhkan (azab mereka)  pada hari di mana mata terbelalak.

c. Saja’

As-saja‘ adalah kesamaan huruf akhir pada dua fashilah atau susunan kalimat. Yang dimaksud fashilah bisa bait, ayat, kalimat, atau penggalan kalimat.

Contoh:

إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا، وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

Artinya: Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, (QS. Al-Ma’arij: 20-21)

2. Muhsinat Ma’nawiyah

Muhassinatul ma’nawiyyah adalah cara mengindahkan makna dalam suatu ungkapan.

a. Tauriyah

Tauriyah adalah mengungkapkan suatu lafaz yang mempunyai dua makna: pertama, makna dekat dan jelas yang tidak dimaksud. Kedua, makna jauh dan samar dan inilah yang dimaksud mutakallim.

Contoh pada kisah Nabi Ibrahim ketika beliau dalam perjalanan dengan istrinya Siti Hajar. Di tengah perjalanan keduanya di tangkap oleh penguasa yang sangat kejam dan bengis. Untuk menyelamatkan istrinya dari kebengisan sang penguasa, Nabi Ibrahim menjawab dengan menggunakan uslub at-tauriyah ketika diintrogasi oleh sang penguasa, “Siapa perempuan ini?” Nabi Ibrahim menjawab,

 هَذِهِ أُخْتِيْ

Artinya dia adalah saudariku.

Kata (أختي) dalam konteks kalimat ini mengandung tauriyah yang mempunyai dua makna. Bisa dimaknai saudari karena nasab atau saudara karena seagama. Sedangkan yang dimaksud Nabi Ibrahim as adalah saudara seagama. Kata tersebut sengaja diucapkan Nabi Ibrahim untuk menjaga identitas istrinya. Seandainya beliau menjawab Hajar adalah istrinya bisa jadi dia akan dibunuh.

b. Thibaq

Thibaq adalah berkumpulnya dua makna yang berlawanan dalam satu kalimat.

Contoh Thibaq:

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ

Artinya: “Dan kamu mengira  mereka itu bangun padahal mereka tidur….” (QS. al-ahfi : 18)

c. Muqabalah

Muqabalah adalah mengungkapkan dua lafaz atau lebih lalu diiringi dua lafaz lain yang merupakan antonim (lawan kata) dari dua lafaz pertama dan disebutkan secara beriringan.

Contoh:

فَلْيَسْهَرُوْا كَثِيْرًا وَلْيَنَامُوْا قَلِيْلاً

artinya:

Hendaklah mereka sering terbangun (malam hari) dan sedikit tidur!”

Kata (يَسْهَرُوْا) dan (كَثِيْرًا) berantonim dengan (يَنَامُوْا) dan (قليلا).

d. Husnut ta’lil

Husnut ta’lil adalah pengingkaran seorang sastrawan secara terang-terangan atau pun terpendam tentang alasan suatu peristiwa yang telah dikenal umum, dan ia mendatangkan alasan lain yang bernilai sastra yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapainya.

Contoh:

كَانَ احْتِرَاقُ الدَّارِ حُزْنًا عَلَى غِيَابِ أَهْلِهَا

Artinya: Terbakarnya rumah itu karena ia sedih ditinggalkan penghuninya

e. Uslub al-Hakim

Uslub al-hakim adalah gaya bahasa yang disampaikan oleh seseorang dalam memberikan jawaban terhadap sebuah persoalan dengan jawaban yang keluar dari topik persoalan.

Contoh:

يَسْئَلُونَكَ عَنِ اْلأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah “itu adalah (petunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji. (Al-Baqarah: 189)

Selain uslub di atas, para ulama balaghah masih banyak menyebutkan pola-pola lain seperti itbâ’, istitbâ’, tafrî’ dan sebagainya, namun diantara yang paling sering dikemukakan dan kita jumpai adalah lima pola diatas.

Artikel keren lainnya:

Download Murattal Al-Quran 30 Juz Full Syeikh Al-Minsyawi Dan Diulangi Oleh Anak

Unduh Talaqqi Murattal untuk Hafalan

Berikut ada MP3 murattal Al-Quran per surat oleh Syeck Al-Minshawy atau dalam transliterasi bahasa Indonesia Syekh Al-Minsyawi.

Kumpulan murottal Al Qur'an 30 juz ini dari Syeikh Al Minshawi diikuti dengan suara anak lengkap dari surat Al-fatihah sampai An-Nas. Murattalnya cocok untuk hafalan karena setiap ayat diulang-ulang. Nadanya begitu sederhana sehingga mudah untuk diikuti dan dicontohkan.

Silakan klik pada tautan surat yang ingin didownload!

001-Al Fatihah.mp3  Download  

002-Al-Baqarah.mp3 Download  

003-Ali-Imran.mp3 Download

004-An-Nisa.mp3  Download

005-Al-Maidah.mp3  Download

006-Al-Anam.mp3  Download

007-Al-Araf.mp3  Download

008-Al-Anfal.mp3 Download

009-At-Taubah.mp3  Download

010-Yunus.mp3 Download

011-Hud.mp3 Download

012-Yusuf.mp3 Download

013-Ar-Rad.mp3  Download

014-Ibrahim.mp3 Download

015-Al-Hijr.mp3 Download

016-An-Nahl.mp3  Download

017-Al-Isra.mp3 Download

018-Al-Kahf.mp3  Download

019-Maryam.mp3  Download

020-Thaha.mp3  Download

021-Al-Anbiya.mp3  Download

022-Al-Hajj.mp3 Download

023-Al-Muminuun.mp3 Download

024-An-Nuur.mp3 Download

025-Al-Furqaan.mp3  Download

026-Asy-Syuaraa.mp3 Download

027-An-Naml.mp3  Download

028-Al-Qashash.mp3  Download

029-Al-Ankabuut.mp3  Download

030-Ar-Ruum.mp3  Download

031-Luqman.mp3 Download

032-As-Sajdah.mp3 Download

033-Al-Ahzab.mp3  Download

034-Saba.mp3 Download

035-Faathir.mp3 Download

036-Yaasiin.mp3 Download

037-Ash-Shaaffaat.mp3 Download

038-Shaad.mp3 Download

039-Az-Zumar.mp3 Download

040-Al-Mumin.mp3 Download

041-Fushshilat.mp3 Download

042-Asy-Syuura.mp3 Download

043-Az-Zukhruf.mp3 Download

044-Ad-Dukhaan.mp3 Download

045-Al-Jaatsiyah.mp3 Download

046-Al-Ahqaaf.mp3 Download

047-Muhammad.mp3 Download

048-Al-Fath.mp3 Download

049-Al-Hujuraat.mp3 Download

050-Qaaf.mp3 Download

051-Adz-Dzaariyaat.mp3 Download

052-Ath-Thuur.mp3 Download

053-An-Najm.mp3 Download

054-Al-Qamar.mp3 Download

055-Ar-Rahmaan.mp3 Download

056-Al-Waaqiah.mp3 Download

057-Al-Hadiid.mp3 Download

058-Al-Mujaadilah.mp3 Download

059-Al-Hasyr.mp3 Download

060-Al-Mumtahanah.mp3 Download

061-Ash-Shaff.mp3 Download

062-Al-Jumuah.mp3 Download

063-Al-Munaafiquun.mp3 Download

064-At-Taghaabun.mp3 Download

065-Ath-Thalaaq.mp3 Download

066-At-Tahrim.mp3 Download

067-Al-Mulk.mp3 Download

068-Al-Qalam.mp3 Download

069-Al-Haaqqah.mp3 Download

070-Al-Maaarij.mp3 Download

071-Nuh.mp3 Download

072-Al-Jin.mp3 Download

073-Al-Muzzammil.mp3 Download

074-Al-Muddatstsir.mp3 Download

075-Al-Qiyaamah.mp3 Download

076-Al-Insaan.mp3 Download

077-Al-Mursalaat.mp3 Download

078-An-Naba.mp3 Download

079-An-Naaziaat.mp3 Download

080-Abasa.mp3 Download

081-At-Takwiir.mp3 Download

082-Al-Infithaar.mp3 Download

083-Al-Muthaffifin.mp3 Download

084-Al-Insyiqaaq.mp3 Download

085-Al-Buruuj.mp3 Download

086-Ath-Thaariq.mp3 Download

087-Al-Alaa.mp3 Download

088-Al-Ghaasyiyah.mp3 Download

089-Al-Fajr.mp3 Download

090-Al-Balad.mp3 Download

091-Asy-Syams.mp3 Download

092-Al-Lail.mp3 Download

093-Adh-Dhuhaa.mp3 Download

094-Alam-Nasyrah.mp3 Download

095-At-Tiin.mp3 Download

096-Al-Alaq.mp3 Download

097-Al-Qadr.mp3 Download

098-Al-Bayyinah.mp3 Download

099-Al-Zalzalah.mp3 Download

100-Al-Aadiyaat.mp3 Download

101-Al-Qaariah.mp3 Download

102-At-Takatsur.mp3 Download

103-Al-Ashr.mp3 Download

104-Al-Humazah.mp3 Download

105-Al-Fil.mp3 Download

106-Al-Quraisy.mp3 Download

107-Al-Mauun.mp3 Download

108-Al-Kautsar.mp3 Download

109-Al-Kaafirun.mp3 Download

110-An-Nasr.mp3 Download

111-Al-Lahab.mp3 Download

112-Al-Ikhlas.mp3 Download

113-Al-Falaq.mp3 Download

114-An-Naas.mp3 Download

Semoga bermanfaat!

Artikel keren lainnya:

Perbedaan Majaz Aqli Dan Majaz Mursal

Perbedaan Majaz Aqli dan Majaz Mursal

Sebelum kita memaparkan yang menjadi benang merah perbedaan antara majaz aqli dan majaz mursal, mari kita ulas sekilas tentang majaz aqli dan majaz mursal.

Majaz

MAJAZ AQLI

A. Pengertian

Majaz aqli adalah menyandarkan perbuatan (aktivitas) kepada suatu atau benda yang bukan aslinya karena adanya ‘alaqah ghair al-musyabahah (hubungan tidak adanya unsur kesamaan antara makna asli dan makna yang mengalami perubahan) dan qarinah (susunan kalimat) yang mencegah terjadinya penyandaran makna ke lafaz tersebut. Dinamakan aqli, karena majaz jenis ini bisa diketahui penunjukan maknanya  dengan menggunakan akal.

Sebagai contoh dalam bahasa Indonesia: “Bupati Garut membangun 100 taman baru”. Pada dasarnya yang membangun itu bukan Pak Bupati, melain para pekerja dan tukang bangunan. Akan tetapi, Pak Bupati menjadi penyebab terjadinya pembangunan taman tersebut.

B. Alaqah Dalam Majaz Aqli

Alaqah dalam majaz aqli:

1. As-sababiyah (السببية)

Yaitu penyandaran suatu perbuatan kepada penyebab langsung (pelaku).

Contohnya:    

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ

Artinya: “Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang Tinggi supaya Aku sampai ke pintu-pintu,(yaitu) pintu-pintu langit,” (QS. Ghafir: 37)

Pada ayat ini disebutkan bahwa perbuatan (aktivitas) membangun gedung yang menjulang disandarkan kepada seorang bernama Haman padahal ia bukan pelaku sebenarnya. Yang membangun itu adalah para pekerja, tetapi Haman bertindak sebagai pengawas proses pembangunan itu.

2. Az-zamaniyah (الزمانية)

Yaitu penyandaran suatu perbuatan kepada masa/waktu terjadinya.

Contohnya:

نَهَارُ الْـمُؤْمِنِ صَائِمٌ ولَيْلُهُ قَائِمٌ

Artinya: "Siangnya orang mukmin itu berpuasa dan malamnya bangun (untuk ibadah).”

Pada contoh ini disebutkan bahwa perbuatan (aktivitas) puasa disandarkan kepada masa/waktu yaitu “siang” padahal “siang” itu bukan pelaku sebenarnya, tetapi yang melakukan puasa itu adalah seorang mukmin pada waktu siang hari.

3. Al-Makaniyah (المكانية)

Yaitu penyandaran suatu perbuatan kepada tempat terjadinya.

Contohnya:

وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (72)

Artinya: “Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (QS. at-Taubah [9]: 72)

Pada ayat ini disebutkan bahwa perbuatan (aktivitas) mengalir disandarkan kepada  sungai-sungai padahal sungai-sungai itu bukan pelaku sebenarnya, tetapi yang mengalir itu adalah air-air yang bertempat di sungai-sungai.

4. Al-Mashdariyah (المصدرية)

Yaitu penyandaran suatu perbuatan kepada mashdarnya (kata dasar/asal).

Contohnya:

سَيَذْكُرُنِي قَوْمِيْ إِذَا جَدَّ جِدُّهُمْ # وَفِي اللَّيْلَةِ الظَّلْمَاءِ يُفْتَقَدُ البَدْرُ

Artinya: “Kaumku akan teringat kepadaku apabila mereka menghadapi kesulitan. Pada malam yang gelap bulan purnama baru dirindukan (dicari-cari)”

Pada syair ini disebutkan bahwa aktivitas menghadapi kesusahan disandarkan kepada mashdar (kata dasar) yaitu kata (جِدُّ) padahal mashdar itu bukan pelaku sebenarnya, tetapi yang mengalami kesusahan adalah orang-orang yang susah.

5. Al-Fa’iliyyah (الفاعلية)

Yaitu penyandaran suatu perbuatan kepada fa’ilnya padahal yang dimaksud maf’ulnya.

Contoh:

فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ

Artinya: “Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai.” (Al-Haqqah: 21)

Kata (رَاضِيَةٍ) bermakna meridhai atau semakna dengan bina ma’lum dan yang dimaksud adalah (مَرْضِيَّةٍ) yang artinya yang diridhai.

6. Al-Maf’uliyyah (المفعولية)

Yaitu penyandaran suatu perbuatan kepada maf’ulnya padahal yang dimaksud fa’ilnya.

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُوْرًا سَاتِرًا

Artinya: “Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup.” (Al-Isra: 45)

Kata (مَسْتُوْرًا) bermakna tertutup atau semakna dengan bina majhul dan yang dimaksud adalah (سَاتِرًا) yang artinya yang menutupi.

MAJAZ MURSAL

A. Pengertian

Majaz mursal adalah suatu lafaz yang dipergunakan bukan pada makna aslinya karena adanya alaqah ghair musyabahah (hubungan bukan perumpamaan) disertai qarinah (alasan/bukti) yang mencegahnya dari makna asli. Majaz mursal berbeda dengan kinayah karena pada kalimat yang berbentuk kinayah tidak harus ada qarinah yang mencegah suatu lafaz dari makna aslinya. Dinamakan “mursal” karena ia tidak dibatasi oleh pemaknaan tertentu.

Contoh:

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ

Artinya:“Sesungghnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan.” (QS. Al-Muthaffifin: 22)

Yang dimaksud dengan kenikmatan pada ayat tersebut adalah tempatnya kenikmatan yaitu surga.

B. Alaqah dan Qarinah dalam Majaz Mursal

Dalam majaz mursal terdapat banyak alaqah dan juga qarinahnya yang banyak, di antaranya:

1. As-Sababiyyah (السببية)

ذِكْرُ السَّبَبِ وَإِرَادَةُ الْمُسَبَّبِ

Yaitu menyebutkan sebab dan yang dimaksud adalah musabbab/akibat.

Contoh:

لِفُلَانٍ عَلَيَّ يَدٌ لَا أُنْكِرُهَا

Artinya: Si fulan memiliki “tangan” (jasa) terhadapku dan itu tidak bisa kupungkiri.

Dari dua contoh di atas, ada kata (يَدٌ) yang artinya tangan. Namun yang dimaksud pada ungkapan di atas adalah sesuatu yang dihasilkan oleh tangan yakni berupa pemberian, jasa, sedekah, dll.

2. Al-Musabbabiyyah (المسببية)

ذِكْرُ الْمُسَبَّبِ وَإِرَادَةُ السَّبَبِ

Yaitu menyebutkan akibat dan yang dimaksud adalah sebab.

Contoh:

هُوَ الَّذِي يُرِيكُمْ آَيَاتِهِ وَيُنَزِّلُ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ رِزْقًا وَمَا يَتَذَكَّرُ إِلَّا مَنْ يُنِيبُ

Artinya: “Dia-lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit. dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah). (QS. Ghafir [40]: 13)

Lafaz (رِزْقًا) yang artinya rezeki dipergunakan dengan makna (غَيْثًا) yang artinya hujan, karena rezeki yang berupa buah-buahan dan tanaman itu tumbuh disebabkan adanya air hujan.

3. Al-Juz’iyyah (الجزئية)

ذِكْرُ الْجُزْءِ وَإِرَادَةُ الْكُلَّ

Yaitu menyebutkan sebagian sedangkan yang dimaksud adalah keseluruhan.

Contohnya dalam firman Allah:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا

Artinya: “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah….” (QS. an-Nisa’ [4]: 92)

Kata (رَقَبَةٍ) yang artinya leher dipergunakan dengan makna hamba secara keseluruhan. Qarinahnya tidak mungkin memerdekakan sebagian dari anggota tubuhnya yaitu leher saja, tetapi yang dimerdekakan adalah seluruh anggota tubuh seorang.

4. Al-Kulliyah (الكلية)

ذِكْرُ الْكُلَّ وَإِرَادَةُ الْجُزْءِ

Yaitu menyebutkan keseluruhan sedangkan yang dimaksud adalah sebagian.

Contoh:

وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آَذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا

Artinya: “Dan Sesungguhnya setiap kali Aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan (anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.” (QS. Nuh [71]: 7).

Lafaz (أَصَابِعَهُمْ) yang artinya jari-jari tangan pada ayat di atas maksudnya adalah (الأَنَامِلُ) yang artinya ujung jari. Qarinahnya karena seseorang tidak mungkin memasukkan semua jari tangannya ke dalam telinganya, tetapi yang dimasukkan adalah ujung jari.

5. Al-Mahaliyyah (الْمَحَالِيَّة)

ذِكْرُ الْمَحَالِ وَإِرَادَةُ الْحَالِ

Yaitu menyebutkan tempat dan yang dimaksud adalah hal atau yang ada di tempat itu.

Contoh:

وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا

Artinya: “Tanyakan kepada desa yang tadi kita datangi!” (QS. Yusuf: 82)

Disebutkan desa tapi yang dimaksud adalah penduduk desanya.

6. Al-Haliyyah (الْحَالِيَّة)

ذِكْرُ الْحَالِ وَإِرَادَةُ الْمَحَالِ

Yaitu menyebutkan hal atau keadaan dan yang dimaksud adalah tempatnya.

Contoh:

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ

Artinya:“Sesungghnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan.” (QS. Al-Muthaffifin: 22)

Yang dimaksud dengan kenikmatan pada ayat tersebut adalah tempatnya kenikmatan yaitu surga.

7. I‘tibarr Ma Kana (اِعْتِبَارُ مَا كَانَ)

اِعْتِبَارُ مَا كَانَ وَإِرَادَةُ مَا يَكُوْنُ

Yaitu menyebutkan sesuatu yang lalu atau sudah terjadi dan yang dimaksud adalah sesuatu yang akan datang.

Contohnya dalam firman Allah yang mengisahkan tentang pengembalian harta anak yatim yang sebelumnya diamanahkan kepada pengasuhnya:

وَآَتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ

Artinya: “Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka.” (QS. an-Nisa’ [4]: 2)

Kata (الْيَتَامَى) berarti anak yatim yang dalam masa kanak-kanak sedangkan yang dimaksud ayat di atas adalah yatim yang sudah memasuki masa baligh.

8. I’tibar Ma Yakun (اِعْتِبَارُ مَا يَكُوْنُ)

اِعْتِبَارُ مَا يَكُوْنُ وَإِرَادَةُ مَا كَانَ

Yaitu menyebutkan sesuatu yang akan terjadi dan yang dimaksud adalah sesuatu yang telah terjadi. Maksudnya adalah menyebutkan sesuatu tetapi maksudnya adalah sesuatu yang terjadi sebelumnya.

Contoh:

وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيَانِ قَالَ أَحَدُهُمَا إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرًا

Artinya: “Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. berkatalah salah seorang diantara keduanya: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras arak." (QS. Yūsuf [12]: 36)

Kata (خَمْرًا) yang artinya arak sedang yang dimaksud adalah (عَصِيْرا) yang artinya sari atau perasan. Qarinahnya adalah arak itu tidak diperas tetapi yang diperas adalah buah anggur yang menghasilkan jus atau sari yang selanjutnya dicampur dengan zat-zat lain sehingga berubah menjadi khamar.

SIMPULAN

Titik persamaan majaz aqli dan majaz mursal adalah keduanya merupakan majaz dimana penggunaan suatu kata bukan pada makna aslinya dan alaqahnya ghair musyabbahah.

Majaz aqli menitik beratkan pada penyandaran fi’il atau suatu perbuatan kepada bukan pelaku yang sebenarnya, sedangkan majaz mursal penggunaan suatu makna kepada kata yang bukan sesungguhnya.

Alaqah pada majaz aqli: as-sababiyyah, az-zamaniyyah, al-makaniyyah, al-mashdadriyyah, al-fa’iliyyah, dan al-maf’uliyyah.

Alaqah pada majaz mursal: as-sababiyyah, al-musabbabiyyah, al-juz’iyyah, al-kulliyyah, al-haliyyah, al-maahaliyyah, i’tibaru ma kana, dan i’tibaru ma yakunu.

• Biarpun ada alaqah yang sama, yaitu as-sababiyyah, namun kalau majaz aqli menyandarkan fi’il kepada pelaku yang menjadi sebab terjadinya. Adapun as-sababiyyah dalam majaz mursal adalah menyebutkan suatu makna (tidak sebagai pelaku) sedang yang dimaksud adalah akibatnya dari adanya penyebab tersebut.

Artikel keren lainnya:

Hikmah: Jagalah Pintu Surga (Berbakti Kepada Orang Tua)

JAGALAH PINTU SURGA

Seorang tabi'in yang mulia, Iyas bin Mu'awiyah rahimahullah, menangis sejadi-jadinya ketika salah satu dari orang tuanya meninggal dunia. Sehingga ditanyakan kepada beliau, " Mengapa Anda menangis sedemikian rupa ?"
Tidaklah aku menangis karena kematian karena yang hidup pasti mati. Akan tetapi, yang membuatku menangis karena dulu aku punya dua pintu ke surga, maka tertutuplah satu pintu pada hari ini dan tidak dibuka sampai hari kiamat. Aku mohon kepada Allah ta'ala agar aku bisa menjaga pintu yang kedua," jawab beliau.

Kedua orang tua adalah dua pintu menuju surga, yang kita dapat menikmati bau harumnya setiap pagi dan petang . Rasulullah saw. bersabda, 
(Berbakti kepada) orang tua adalah pintu surga yang paling tengah maka engkau pilih sia-siakan pintu itu atau menjaganya." ( H.R. At-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani).
Pintu surga yang paling tengah adalah pintu yang paling indah. Masihkan engkau sia-siakan pintu itu ? Bahkan, engkau haramkan dirimu untuk memasukinya dengan mengangkat suaramu di hadapannya? Dengan membentaknya di kala tulang-tulangnya semakin lemah karena dimakan usia? Sementara tubuhmu yang berotot kekar, dahulu telah dibasuh kotorannya dengan tangannya yang kini tak bertenaga. 
Rasulullah saw. bersabda,
"Celaka, celaka dan celaka.' sahabat bertanya, 'Siapa, ya Rasulullah?' 'Siapa yang mendapatkan kedua orang tuanya di masa tua, salah satunya atau keduanya, tetapi ia tidak masuk surga.'" (H.R. Muslim)
Berbahagialah yang masih memiliki orang tua. Berbuat baiklah pada mereka apa pun yang mereka lakukan padamu. Sebab tidak ada kebaikan yang sia-sia terlebih kepada orang yang melahirkan dan merawat kita. 

Semoga Allah mempermudah kita untuk lebih memuliakan orang tua kita. Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin.

Artikel keren lainnya:

Kultum: Manfaatkan Subuhmu! Subuh itu Kejam

"KEJAMNYA WAKTU SUBUH"

Saudaraku...

Saya yakin di antara kita sudah mengetahui keistimewaan waktu Subuh.

Hari ini ada baiknya kita melihat waktu Subuh dgn kacamata yg lain, yaitu dari bahaya waktu Subuh bila kita tidak dapat memanfaatkannya.

Allah bersumpah dalam Al Fajr : “Demi fajar (waktu subuh)”.

Kemudian dalam Al-Falaq, Allah mengingatkan:

“Katakanlah! Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh”.

Ada apa di balik waktu Subuh? 

Mengapa Allah bersumpah demi waktu Subuh?

Mengapa harus berlindung kpd yang menguasai waktu Subuh?

Apakah waktu Subuh sangat berbahaya?

Ya, ternyata waktu Subuh benar-benar sangat berbahaya!

Waktu Subuh lebih kejam dari sekawanan perampok bersenjata api.

Waktu Subuh lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan.

Jika ada sekawanan perampok menyatroni rumah kita, dan mengambil paksa semua barang kita: uang dan semua perhiasan emas digondolnya. Uang cash puluhan juta ditilepnya. Laptop, yang berisi data2 penting kita juga diembatnya. Eh, mobil yg belum lunas juga diembatnya dan rumah kita dibakarnya. 

Bagaimana rasa pedih hati kita menerima kenyataan ini?

Ketahuilah,!!

bahwa waktu Subuh lebih kejam dari perampok itu.  

Karena jika kita tergilas sang waktu Subuh sampai melalaikan shalat fajar, maka kita akan menderita kerugian lebih besar dari sekedar kehilangan seluruh harta kita.

Kita kehilangan dunia dan segala isinya. 

Ingat sabda Rasulullah : “Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya” (HR Muslim).

Waktu Subuh juga lebih menyengsarakan dari sekedar kemiskinan dunia.

Karena bagi orang2 yg tergilas waktu Subuh hingga mengabaikan shalat Subuh berjamaah di masjid, maka hakikatnya, merekalah orang2 miskin sejati yg hanya mendapatkan upah 1/150 (0,7%) saja pahala shalatnya.

“…dan barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, maka ia bagaikan shalat semalam suntuk”  (HR Muslim).

Shalat semalam suntuk adalah shalat yang dikerjakan mulai dari tenggelamnya matahari sampai terbit fajar. Fantastis!

Shalat selama sepuluh jam…, atau kurang lebih 150 kali shalat! Betapa agung fadhilah shalat Subuh berjamaah ini. Sebaliknya betapa malangnya orang yg tergilas waktu Subuh, orang2 yg mengabaikan shalat subuh berjamaah di masjid.

Waktu Subuh juga lebih berbahaya dari kobaran api yg disiram bensin. 

Mengapa demikian? Tahukah Anda bahwa Nabi Muhammad Shalallhu alaihi wassalam  menyetarakan dengan orang Munafik bagi yg tidak mampu melaksanakan shalat Subuh berjamaah di mesjid ?

Rasulullah bersabda:

 

“Sesungguhnya tiada yang dirasa berat oleh seorang Munafik, kecuali melaksanakan shalat Isya dan shalat Subuh berjamaah. Sekiranya mereka tahu akan keagungan pahalanya, niscaya mereka bakal mendatanginya (ke masjid, shalat berjamaah) sekalipun harus berjalan merangkak-rangkak” (HR Bukhari Muslim).

Agar tidak merasakan gilasan waktu Subuh yg lebih kejam dari perampokan, agar tidak terkena gilasan waktu Subuh yg lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan, dan panasnya kobaran api, maka: “Katakanlah! Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh.” (Al Falaq:1).

Yaitu dengan bersegera memanfaatkan waktu Subuh sebaik-baiknya. Lakukan shalat sunnah qabliyah Shubuh (shalat fajar) dan shalat Shubuh berjamaah di masjid - bagi pria, di rumah - bagi wanita di awal waktu setelah azan berkumandang.

Ayo jadi pejuang shubuh...!!!

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda,

 

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893)

SEMOGA BERMANFAAT

Artikel keren lainnya:

Majaz (Aqli dan Lughawi) dalam Ilmu Balaghah

Majaz Dalam Ilmu Balaghah

Majaz adalah kata yang digunakan bukan pada makna aslinya karena adanya hubungan (alaqah) dan alasan yang menghalangi untuk difahami dengan makna aslinya atau makna kamus. Dalam ilmu bayan, majaz dibagi menjadi dua, yaitu majaz aqli dan majaz lughawi.

Majaz

A. Majaz Aqli

Majaz aqli adalah menyandarkan perbuatan (aktivitas) kepada suatu atau benda yang bukan aslinya karena adanya ‘alaqah ghair al-musyabahah (hubungan tidak adanya unsur kesamaan antara makna asli dan makna yang mengalami perubahan) dan qarinah (susunan kalimat) yang mencegah terjadinya penyandaran makna ke lafaz tersebut. Dinamakan aqli, karena majaz jenis ini bisa diketahui penunjukan maknanya  dengan menggunakan akal.

Berikut alaqah dan qarinah dalam majaz aqli:

1. As-sababiyyah

Yaitu penyandaran suatu perbuatan kepada penyebab langsung (pelaku).

Contoh:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ

Artinya: “Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya Aku sampai ke pintu-pintu” (QS. Ghafir [40]: 37).

Pada ayat ini disebutkan bahwa perbuatan (aktivitas) membangun gedung yang menjulang disandarkan kepada seorang bernama Haman padahal ia bukan pelaku sebenarnya. Yang membangun itu adalah para pekerja, tetapi Haman bertindak sebagai pengawas proses pembangunan itu.

2. Az-zamaniyyah

Yaitu penyandaran suatu perbuatan kepada masa/waktu terjadinya.

Contohnya:

نَهَارُ الْـمُؤْمِنِ صَائِمٌ ولَيْلُهُ قَائِمٌ

Artinya: "Siangnya orang mukmin itu berpuasa dan malamnya bangun (untuk ibadah).”

Pada contoh ini disebutkan bahwa perbuatan (aktivitas) puasa disandarkan kepada masa/waktu yaitu “siang” padahal “siang” itu bukan pelaku sebenarnya, tetapi yang melakukan puasa itu adalah seorang mukmin pada waktu siang hari.

3. Al-Makaniyyah

Yaitu penyandaran suatu perbuatan kepada tempat terjadinya.

Contohnya:

جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

Artinya: “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga adn yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya.” (Al-Bayyinah: 8).

Pada ayat ini disebutkan bahwa perbuatan (aktivitas) mengalir disandarkan kepada  sungai-sungai padahal sungai-sungai itu bukan pelaku sebenarnya, tetapi yang mengalir itu adalah air-air yang bertempat di sungai-sungai.

4. Al-Mashdariyyah

Yaitu penyandaran suatu perbuatan kepada mashdarnya (kata dasar/asal).

Contohnya:

سَيَذْكُرُنِي قَوْمِيْ إِذَا جَدَّ جِدُّهُمْ # وَفِي اللَّيْلَةِ الظَّلْمَاءِ يُفْتَقَدُ البَدْرُ

Artinya: “Kaumku akan teringat kepadaku apabila mereka menghadapi kesulitan. Pada malam yang gelap bulan purnama baru dirindukan (dicari-cari)”

Pada syair ini disebutkan bahwa aktivitas menghadapi kesusahan disandarkan kepada mashdar (kata dasar) yaitu kata (جِدُّ) padahal mashdar itu bukan pelaku sebenarnya, tetapi yang mengalami kesusahan adalah orang-orang yang susah.

B. Majaz Lughawi

Majaz lughawi adalah kata yang tidak difahami dengan makna aslinya karena ada alaqah dan qarinah yang mencegah makna asli. Dalam majaz lughawi, suatu makna difahami dengan makna lain karena unsur kebahasaan. Majaz lughawi terbagi lagi menjadi istiarah dan majaz mursal.

1. Istiarah

Istiarah adalah kata yang tidak difahami dengan makna aslinya dan mulanya uslub tasybih yang dibuang salah satu tharafnya. Maka alaqah atau hubungan makna asli dan makna yang dimaksud dalam istiarah adalah musyabahah.

Dari segi qarinahnya, isti’arah dibagi menjadi tashrihiyyah dan makniyyah.

a. Isti’arah Tashrihiyyah

Isti’arah tashrihiyyah adalah isti’arah yang disiratkan dengan musyabbah bih.

Contoh:

 رَأَيْتُ أَسَدًا فِي الْفَصْلِ

Artinya: Saya melihat “singa” di kelas.

Pada contoh di atas, seorang yang pemberani (رَجُل شُجَاع) diserupakan dengan (أسدا) (singa), karena sama-sama memiliki sifat keberanian.

b. Isti’arah Makniyyah

Isti’arah makniyyah adalah kalimat yang musyabbah bihnya dibuang lalu disiratkan dengan sesuatu dari salah satu sifatnya.

Contoh:

  غَرَّدَ الشاعر بِقَصِيْدَة

Pada contoh pertama, penyair diserupakan dengan burung karena sama-sama bernyanyi yang disiratkan dengan kata (غَرَّدَ) yang artinya berkicau.

Dari segi kata pembentuknya, isti’arah dibagi menjadi ashliyyah dan taba’iyyah.

a. Isti’arah Ashliyyah

Isti’arah ashliyyah adalah apabila lafaz yang tempat berlangsungnya al-isti‘arah itu terbentuk dari isim jamid. Isti’arah ashliyyah qarinahnya tashrihiyyah.

Contoh:

رَأَيْتُ أَسَدًا فِي الْفَصْلِ

b. Isti’arah Taba’iyyah

Isti’arah taba’iyyah adalah lafaz yang tempat berlangsungnya al-isti‘arah itu terbentuk dari isim musytaq atau fi’il. Isti’arah taba’iyyah qarinahnya makniyyah.

Contoh:

وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا

Dari segi tanda, isti’arah dibagi menjadi murasysyahah, mujarradah, dan muthlaqah.

a. Murasysyahah

Yaitu isti’arah yang disebutkan tanda musyabbah bihnya.

Contoh:

أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

Artinya: “Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 16).

Yang menjadi isti’arah adalah kata (اشْتَرَوُا) yang berarti membeli dan yang dimaksudkan memilih. Kata tersebut ditandai dengan kata (فَمَا رَبِحَتْ) yang artinya tidak mendapat untung.

b. Mujarradah

Yaitu isti’arah yang disebutkan tanda musyabbahnya.

Contoh:

ولَيْلَةٍ مَرِضَتْ من كُلِّ ناحِيَةٍ ... فلا يُضيءُ لها نَجْمٌ ولا قَمَرُ

Artinya: dan malam yang sakit dari segala penjuru, maka bintang juga bulan tidak meneranginya.

Kata (مَرِضَتْ) yang berarti sakit merupakan penyerupaan dari (ظلم) yang berarti gelap. Kata (ظلم) sebagai musyabbah diisyaratkan dengan kalimat (فلا يُضيءُ) yang berarti tidak menerangi.

c. Muthlaqah

Yaitu isti’arah yang tidak ada tanda musyabbah bih atau musyabbahnya.

Contoh:

إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاء حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ

Artinya: “Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu, ke dalam bahtera.” (QS. Al-Haqqah: 11).

Kata (طَغَى) bermakna (زَادَ) dan setelahnya tidak ada tanda yang menjelaskan keduanya.

2. Majaz Mursal

Majaz mursal adalah suatu lafaz yang dipergunakan bukan pada makna aslinya karena adanya alaqah ghair musyabahah (hubungan bukan perumpamaan) disertai qarinah (alasan/bukti) yang mencegahnya dari makna asli. Majaz mursal berbeda dengan kinayah karena pada kalimat yang berbentuk kinayah tidak harus ada qarinah yang mencegah suatu lafaz dari makna aslinya. Dinamakan “mursal” karena ia tidak dibatasi oleh pemaknaan tertentu.

a. As-Sababiyyah

Yaitu menyebutkan sebab dan yang dimaksud adalah musabbab/akibat

لِفُلَانٍ عَلَيَّ يَدٌ لَا أُنْكِرُهَا

Si fulan memiliki “tangan” terhadapku dan itu tidak bisa kupungkiri.

Yang dimaksud tangan adalah jasa/budi.

b. Al-Musabbabiyyah

Yaitu menyebutkan akibat dan yang dimaksud adalah sebab

وَيُنَزِّلُ لَكُمْ مِّنَ السَّمَآءِ رِزْقًا

Dan Dia menurunkan untukmu “rezeki” dari langit. (Ghafir: 13)

Yang dimaksud rezeki adalah hujan.

c. Al-Juz’iyyah

Yaitu menyebutkan sebagian dan yang dimaksud adalah keseluruhan

فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ

(Hendaklah) ia memerdekakan leher seorang hamba sahaya yang beriman (An-Nisa: 92).

Yang dimaksud leher pada ayat di atas adalah seluruh badan.

d. Al-Kulliyah

Yaitu menyebutkan keseluruhan dan yang dimaksud adalah sebagian

جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ

Mereka memasukkan jari-jari mereka ke dalam telinganya (Nuh: 7)

Yang dimaksud jari tersebut adalah hanya ujung jari saja.

e. Al-Mahaliyyah

Yaitu menyebutkan tempat dan yang dimaksud adalah hal

وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا

Tanyakan kepada desa yang tadi kita datangi! (Yusuf: 82)

Yang disebutkan desa dan yang dimaksud adalah penduduk desa.

f. Al-Haliyyah

Yaitu menyebutkan hal dan yang dimaksud adalah tempat

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍ

Sesungghnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan (Al-Muthaffifin: 22).

Yang dimaksud dengan kenikmatan adalah surga.

g. ‘Itibar Ma Kana

Yaitu menyebutkan yang terjadi dan yang dimaksud adalah yang akan datang

وَآَتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim harta mereka! (An-Nisa’: 2)

Yang disebutkan anak yatim dan yang dimaksud ketika baligh.

h. ‘Itibar Ma Yakunu

Yaitu menyebutkan yang terjadi dan yang dimaksud adalah sesuatu yang sebelumnya

وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيَانِ قَالَ أَحَدُهُمَا إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرًا

Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. berkatalah salah seorang diantara keduanya: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras arak (Yūsuf: 36)

Yang dimaksud arak pada ayat di atas adalah anggur.

Artikel keren lainnya: