Home · Tajwid · Sharaf · Nahwu · Balaghah · Do'a · Daftar Isi

Soal Latihan PAS/ASAS Semester Ganjil Fikih MTs Kelas 8

Bank Soal Fikih MTs Kelas VIII untuk PAS/ASAS Semester 1

Berikut terdapat 45 soal PG dan 5 soal uraian untuk latihan pemahaman pengetahuan pada mata pelajaran fikih untuk kelas 8 Madrasah Tsanawiyah (MTs). Adapun materi yang diujikan ialah:
1. Sujud sahwi, sujud tilawah, dan sujud syukur
2. Zakat
3. Puasa
4. I'tikaf

PENILAIAN AKHIR SEMESTER

I. Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!

1. Zulaihah melaksanakan shalat isya’ di rumahnya. Pada rakaat kedua ia lupa tidak duduk tahiyyat awal. Sebelum salam ia teringat kemudian melakukan sujud sekali. Sujud yang dilakukan Zulaiha disebut sujud ...

A. sahwi
B. syukur
C. tilawah
D. shalat
 

2. Lafadz yang khusus dibaca ketika sujud sahwi adalah ....

A.

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُوُ

B.

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ

C.

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ

D.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ

 

3. Perhatikan amalan-amalan dalam shalat berikut.

(1) Mengangkat tangan saat takbiratul ihram
(2) Membaca shalawat ketika tasyahud awal
(3) Membaca doa iftitah
(4) Membaca doa qunut
(5) Duduk tasyahud awal
(6) Membaca tasbih

Dari pernyataan-pernyataan tersebut yang termasuk Sunnah ab’adh antara lain ....

A. (1), (3) dan (6)
B. (2), (3) dan (4)
C. (2), (4) dan (5)
D. (3), (4) dan (6)

 

4. Aisyah sedang mengerjakan shalat Zuhur, tiba-tiba ia teringat bahwa bilangan rakaat yang dikerjakannya ternyata lebih. Dalam kondisi seperti itu Aisyah sebaiknya melaksanakan sujud sahwi ...

A. sebelum salam
B. setelah salam
C. sebelum takbir
D. setelah rukuk

 

5. Beberapa bulan lalu salah satu wilayah Indonesia terjadi gempa bumi dan tsunami. Banyak korban jiwa dalam musibah tersebut. Pak Ahmad, salah seorang saudara bu Fatimah tinggal di wilayah tersebut. Dia mendapat kabar bahwa saudaranya selamat dari musibah tersebut. Bu Fatimah pun kemudian melakukan sujud...

A. syukur
B. shalat
C. tilawah
D. Sahwi

 

6. Perhatikan pernyataan berikut!

(1) Suci dari hadas dan najis
(2) Menghadap kiblat
(3) Menutup aurat
(4) Masuk waktu
(5) Tamyiz

Dari beberapa pernyataan tersebut, yang merupakan bagian dari syarat sujud syukur adalah ...

A. (1), (2) dan (3)
B. (1), (3) dan (5)
C. (2), (3) dan (4)
D. (3), (4) dan (5)

 

7. Budi melaksanakan shalat berjamaah di musalla dekat rumahnya. Setelah membaca surat al-Fatihah, imam membaca surat al-Insyiqaq. Ketika bacaan imam sampai pada ayat 21, imam dan makmum melakukan sujud satu kali. Mereka kemudian bangun kembali dan melanjutkan bacaannya. Sebab mereka melaksanakan sujud tersebut adalah ....

A. Mengetahui makna dan kandungan ayat yang dibaca
B. Mendengar atau membaca ayat sajdah
C. Ayat yang dibaca imam berisi kabar gembira
D. Ayat yang dibaca imam berisi azab yang pedih

 

8. Pada hari Selasa sebelum melaksanakan shalat dhuha para peserta didik MTs kelas VIII melaksanakan tadarrus Al-Qur’an. Ketika selesai membaca surat Maryam ayat 58 mereka sujud. Sujud yang dilakukan oleh mereka adalah adalah sujud ...

A. syukur
B. shalat
C. tilawah
D. sahwi

 

9. Dalil naqli berikut yang menerangkan sujud syukur berikut adalah ...

A.

كَانَ إِذَا أَتَاهُ أَمْرٌ يَسُرُّهُ لَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شُكْرًا لِلَّهِ

B.

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي

C.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

D.

لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ

 

10. Perhatikan pernyataan berikut!

(1) lupa mengerjakan tasyahud awal
(2) mendapatkan kabar baik
(3) membaca surat al-Alaq ayat 19
(4) terhindar dari mara bahaya
(5) mendengar bacaan ayat sajdah

Dari pernyataan-pernyataan tersebut yang termasuk sebab untuk melaksanakan sujud tilawah adalah ....

A. (1) dan (2)
B. (2) dan (3)
C. (2) dan (4)
D. (3) dan (5)

 

11. Murid-murid di suatu madrasah tergolong majemuk. Mereka berasal dari beberapa desa yang berbeda. Namun mereka hidup rukun meskipun berasal dari ormas Islam atau pengikut madzhab yang berbeda. Suatu ketika Ahmad, yang biasa melakukan qunut dalam shalat shubuh bermakmum kepada Yazid yang biasanya tidak qunut ketika shalat shubuh. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh Ahmad, haruskah dia melakukan sujud sahwi setelah salam ataukah tidak perlu?

A. Wajib melakukan sujud sahwi meskipun imam tidak sujud sahwi
B. Sunnah melakukan sujud sahwi meskipun imam tidak sujud sahwi
C. Boleh sujud sahwi boleh juga tidak, tergantung kemauan Ahmad
D. Tidak perlu melakukan sujud sahwi, karena imam tidak sujud sahwi

 

12. Pemilik sebuah toko di suatu pasar memiliki omzet jutaan rupiah dan setiap tahunnya ia mengeluarkan zakatnya karena telah cukup nisab, bila ia tidak keluarkan zakatnya, Pemerintah berhak untuk memaksanya. karena hukum zakat bagi dirinya adalah...

A. mubah
B. Sunnah muakkad
C. fardhu kifayah
D. fardhu ‘ain

 

13. Segala bentuk ibadah mahdhoh mempunyai syarat wajibnya. yang termasuk syarat wajib zakat fitrah adalah....

A. Islam dan tamyiz
B. masuk waktu dan mampu
C. Islam dan memiliki kelebihan harta
D. mencapai haul dan nisab

 

14. Pak Komar memiliki 40 ekor kambing, maka zakat yang dikeluarkan adalah ... umur 2 tahun lebih.

A. 1 ekor kambing
B. 2 ekor kambing
C. 3 ekor kambing
D. 4 ekor kambing

 

15. Zakat fitrah wajib dikeluarkan oleh kepala keluarga untuk setiap kepala. waktu yang utama mengeluarkan zakat fitrah adalah...

A. masih diawal Ramadhan
B. diakhir bulan Ramadhan
C. malam hari raya idul fithri
D. setelah shalat idul fithri

 

16. Penyaluran zakat harus sesuai dengan peruntukkannya yang disebut dengan mustahik zakat. Yang termasuk mustahik zakat pada kelompok berikut adalah....

A. fakir dan miskin
B. yatim dan anak jalanan
C. pengangguran dan pembela negara

D. peminta-minta dan orang musafir

 

17. Husnan adalah seorang muslim yang taat menjalan ajaran agama. Ia berniat mengeluarkan zakat untuk dirinya dan keluarganya berupa beras sebanyak 14 liter beras. Ia memberikan kepada fakir miskin di lingkungan rumahnya. Di lingkungan rumahnya Rahmat tergolong keluarga yang mampu. Berdasarkan ilustrasi tersebut, perilaku Rahmat yang termasuk rukun zakat adalah ....

A. Niat, Islam, dan mempunyai kemampuan
B. Niat, muzaki dan mustahik zakat, ada makanan pokok
C. Niat, mustahik zakat, mempunyai kelebihan makanan pokok
D. Islam, Rahmat (muzakki), fakir miskin (mustahik zakat), mampu

 

18. Nisab merupakan batas minimal jumlah harta yang telah wajib dikeluarkan zakatnya. nisab harta emas adalah....

A. 90 gram
B. 85 gram
C. 80 gram
D. 75 gram

 

19. Pak Broto mempunyai suatu usaha perdagangan yang beromset satu miliar dan setiap tahunnya ia mengeluarkan zakatnya 2,5 % dan diberikan kepada para mustahiknya. berapa bagian masing-masing mustahik jika ada 500 orang. yang diperoleh satu orang mustahik adalah....

A. Rp. 100.000,-
B. Rp. 200.000,-
C. Rp. 300.000,-
D. Rp. 400.000,-

 

20. Kelompok hewan yang wajib dizakati pada pernyataan berikut adalah....

A. kambing, unta dan sapi
B. ayam, bebek dan kambing
C. kerbau, kuda dan rusa
D. semua jenis unggas dan mamalia

 

21. Zakat hewan ternak sapi jika hewan sapinya berjumlah 60 ekor, besarnya adalah...

A. 1 ekor kambing berumur 2 tahun
B. 1 ekor sapi berumur 2 tahun
C. 2 ekor kambing berumur 1 tahun
D. 2 ekor sapi berumur 1 tahun

 

22. Seorang pengusaha kuliner di akhir tahun 2017 memiliki harta simpanan berupa emas seberat 120 gram, jika harga emas 550.000/gram, pada akhir tahun 2018. Berapa jumlah zakat yang harus dibayarkan ....

A. Rp. 1.650.000
B. Rp. 1.450.000
C. Rp. 1.350.000
D. Rp. 1.250.000

 

23. Rahmat adalah seorang muslim yang taat. Ia berniat mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya dan keluarganya berupa beras sebanyak 14 liter beras. Ia memberikan kepada fakir miskin di lingkungan rumahnya. Di lingkungan rumahnya Rahmat tergolong keluarga yang mampu. Berdasarkan ilustrasi tersebut, perilaku Rahmat yang termasuk rukun zakat adalah ....

A. Niat, Islam, dan mempunyai kemampuan
B. Niat, muzakki dan mustahik zakat, ada makanan pokok

C. Niat, mustahik zakat, mempunyai kelebihan makanan pokok
D. Islam, Rahmat (muzaki), fakir miskin (mustahik zakat), mampu

24. Perhatikan opsi berikut!

(1) niat pada pagi hari
(2) bersiwak setelah Zhuhur
(3) sengaja muntah
(4) murtad
(5) tidak sahur

dari lima opsi ini yang merupakan hal-hal yang membatalkan puasa adalah....

A. (1), (2), dan (3)
B. (1), (3), dan (4)
C. (2), (3) dan (4)
D. (3), (4) dan (5)

 

25. Kelompok puasa wajib dalam pernyataan berikut yang paling tepat adalah....

A. puasa Arafah, ayyamul bid dan nadzar
B. Asyura, puasa Daud dan kafarat
C. puasa Ramadhan, Arafah dan Asyuro
D. puasa Ramadhan, kafarat dan nadzar

 

26. Dalil tentang diwajibkannya puasa Ramadhan terdapat dalam Al-Qur’an surat ...

A. al-Baqarah ayat 181
B. al-Baqarah ayat 182
C. al-Baqarah ayat 183
D. al-Baqarah ayat 184

 

27. Puasa Ramadhan suatu keniscayaan yang patut dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku, namun tidak semua dapat menjalaninya. sebab dibolehkannya tidak berpuasa di bulan Ramadhan antara lain adalah...

A. sedang ujian
B. sedang bepergian
C. sedang sibuk
D. lupa tidak makan sahur.

 

28. Orang yang dibolehkan tidak puasa di bulan Ramadhan dan wajib mengqodhonya adalah....

A. orang sakit yang tidak mungkin sembuhnya
B. orang yang sudah tua renta
C. orang yang sedang bepergian
D. wanita yang sedang menyusui anaknya

 

29. Perhatikan pernyataan berikut!

(1) memperbanyak baca al-Qur’an
(2) bersiwak atau sikat gigi siang hari
(3) memperbanyak sedekah
(4) mengakhirkan sahur
(5) tidur di siang hari
(6) berbuka dengan kurma
(7) memasukkan benda ke rongga badan

Dari pernyataan-pernyataan tersebut, yang termasuk amalan sunnah dalam puasa adalah ....

A. (1), (2), (3) dan (4)
B. (1), (3), (4) dan (6)
C. (1), (3), (5) dan (7)
D. (4), (5) dan (6)

 

30. Yang bukan termasuk kifarat meninggalkan puasa dari pernyataan berikut adalah....

A. puasa dua bulan berturut-turut
B. memerdekakan budak
C. memberi makan 60 orang miskin
D. memberi pakaian 10 orang miskin

 

31. Puasa sunnah banyak macam ragamnya dan juga berbeda-beda keutamaannya. Kelompok yang berisi macam-macam puasa sunnah berikut adalah...

A. puasa nadzar dan 6 hari Syawal
B. hari Arafah dan hari Tasyrik
C. hari syak dan Ayyamul biidh
D. hari ’Arafah dan Senin Kamis

 

32. Perhatikan hadits berikut!

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ. (رواه مسلم)

keutamaan puasa ini adalah....

A. seperti puasa sepanjang tahun
B. dihapuskan dosa satu tahun yang lalu
C. membuka pintu rizki yang banyak
D. terhapus dosa tahun ini dan yang lalu

 

33. Subhan berniat puasa Ramadhan. Malam harinya, ia melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid. Pada waktu 1/3 malam, ia bangun untuk melaksanakan shalat tahajud, witir dan sahur. Sejak terbit fajar ia berusaha menahan dirinya dari segala yang membatalkan puasa sampai terbenam matahari. Kemudian ia melaksanakan shalat Dhuha dan memperbanyak membaca al-Qur’an. Sore hari menjelang berbuka puasa. Ia memberikan makanan bagi orang yang berpuasa. Perilaku Subhan yang termasuk rukun puasa adalah ....

A. Melaksanakan shalat Tarawih, tahajud, witir, sahur, memberi makanan bagi orang yang berpuasa
B. Niat, menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari
C. Melaksanakan shalat tarawih, tahajud, witir, sahur, memberi makanan bagi orang yang berpuasa
D. Sahur, memberi makanan bagi orang yang berpuasa, shalat dhuha, memperbanyak membaca al-Qur’an

 

34. I’tikaf berasal dari Bahasa Arab dan merupakan bentuk masdar dari:

اِعْتَكَفَ يَعْتَكِفُ اِعْتِكَافًا

yang memiliki arti ….

A. berdiam diri
B. menyendiri
C. menyegaja
D. keluar rumah

 

35. Perhatikan beberapa ketentuan berikut!

(1) Niat dalam hati
(2) Berpakaian yang bersih dan rapi
(3) Melafalkan niat
(4) Mu’takif
(5) Tidak berbicara dengan orang lain
(6) Berdiam diri di masjid

dari beberapa ketentuan tersebut, yang termasuk rukun i’tikaf adalah ....

A. (1), (2), dan (5)
B. (1), (3), dan (5)
C. (1), (4) dan (6)
D. (2), (3) dan (5)

 

36. Hasan berjanji bahwa kalau naik kelas dengan nilai rata-rata 85, dia akan melaksanakan i’tikaf di masjid jami’ di kampungnya. Dan ternyata atas izin Allah Hasan naik kelas dengan nilai sikap A, rata-rata nilai kognitif 87.5 dan nilai keterampilan 86.75. seminggu kemudian Hasan pun melaksanakan i’tikaf di masjid. Hukum melaksanakan i’tikaf yang dilakukan oleh Hasan adalah ....

A. mubah
B. Sunnah
C. Sunnah muakkad
D. Wajib

 

37. Perhatikan hadis berikut!

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ. (رواه البخاري ومسلم)

Berdasarkan hadis tersebut, waktu yang paling utama untuk i’tikaf adalah ....

A. 10 hari pertengahan Ramadhan
B. 10 hari terakhir Ramadhan
C. Pada waktu shalat Jumat
D. Pada sepertiga malam

 

38. Orang yang diperbolehkan i’tikaf salah satunya adalah suci dari haid dan nifas, karena dikhawatirkan ada darah yang bisa mengotori lantai masjid. Bagaimana dengan wanita yang mengalami istihadhah, apakah boleh melaksanakan i’tikaf?

A. Tidak boleh karena dikhawatirkan ada darah yang mengotori lantai
B. Tidak boleh karena tidak suci dari hadas dan najis
C. Boleh dengan syarat dia menggunakan pembalaut
D. Dimakhruhkan karena masih ada alternatif ibadah lain

 

39. Perhatikan pernyataan berikut!

(1) Suci dari haid
(2) Suci badan, pakaian dari najis
(3) Mendapat izin suami
(4) berpakaian sederhana
(5) Tidak bercampur dengan laki-laki
(6) Menggunakan tenda kecil dalam masjid

Dari beberapa pernyataan tersebut yang termasuk syarat khusus bagi wanita untuk beri’tikaf adalah nomor ...

A. (1), (3) dan (5)
B. (1), (4) dan (6)
C. (2), (3) dan (4)
D. (2), (5) dan (6)

 

40. Yang bukan termasuk hal yang membatalkan i’tikaf adalah....

A. makan dan minum
B. keluar masjid untuk refreshing
C. tertidur dan mimpi basah
D. keluar darah haidh

 

41. Perhatikan hadis berikut!

لَا أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلَا جُنُبٍ

Salah satu kandungan hadis tersebut adalah larangan untuk beri’tikaf ketika ....

A. Sedang bekerja untuk memenuhi nafkah keluarga
B. Kurang sehat badan, karena i’tikaf memerlukan kesiapan fisik
C. Sedang menstruasi atau dating bulan bagi wanita muslimah
D. Bercanda dan ngobrol di masjid saat melakukan i’tikaf

 

42. Zaidan melafalkan niat dengan lisan disertai niat dalam hati melaksanakan i’tikaf di masjid Jami’. Dia menetap di dalam masjid dan melaksanakan shalat sunnah, memperbanyak membaca al-Qur’an, membaca shalawat dan berzikir. Supaya tetap sehat dia makan roti dan minum air mineral. Perbuatan baik Zaidan tersebut yang termasuk sunnah i’tikaf adalah ....

A. Niat i’tikaf dalam hati, shalat Sunnah dan berzikir
B. Menetap di dalam masjid, berzikir dan makan dan minum
C. Shalat sunnah, berzikir, shalawat, membaca al-Qur’an
D. Membaca shalawat, makan roti dan minum agar kuat i’tikaf

 

43. Bu Zulaihah dan beberapa teman wanitanya ingin sekali melaksanakan i’tikaf selama satu hari di masjid, terutama pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Niat baik bu Zulaihah tersebut boleh dilaksanakan dengan syarat....

A. Tidak ada pekerjaan di rumah
B. Mendapat izin suami
C. Tidak pada malam hari
D. Membuat semacam kemah

 

44. Berikut ini yang tidak termasuk contoh hal yang diperbolehkan ketika sedang i’tikaf adalah ...

A. Karena sakit perut Umar keluar dari masjid untuk buang air
B. Saat i’tikaf, Ma’ruf makan dan minum di masjid
C. Zidan menemui tamu dan mengantar sampai pintu masjid
D. Belanja makanan dan minuman di warung makan depan masjid

 

45. Di antara hikmah melakukan i’tikaf adalah ....

A. Mendatangkan rizki yang tidak terduga
B. Agar terhindar dari mushibah di dunia
C. Agar lebih fokus beribadah dan muhasabah
D. Menghilangkan kesedihan dan istirahat kerja

 

II. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut!

1.     Dalam shalat Zuhur berjamaah imam lupa tidak duduk tasyahud awal, padahal sudah diingatkan oleh makmum. Namun imam sudah terlanjur berdiri dan melanjutkan shalat? Apa yang sebaiknya dilakukan oleh makmum?

2.     Pak Samsul memiliki harta kekayaan setelah satu tahun sebagai berikut:

·       Tabungan, deposito, obligasi Rp 200.000.000,

·       Uang tunai (di luar kebutuhan pokok) Rp 10.000.000,

·       Perhiasan emas batangan 130 gram

·       Utang jatuh tempo Rp 15.000.000.

Berapa zakat yang wajib dikeluarkan pak Rahmat?

3.     Karena khawatir dengan kondisi bayinya yang kurang sehat dan sangat membutuhkan ASI, ibu Latifah tidak menjalakan puasa Ramadhan selama dua hari meskipun kondisi fisiknya sangat sehat. Apa yang harus dilakukan ibu Latifah sesudah Ramadhan ketika bayinya sudah sehat?

4.     Pada bulan Ramadhan lalu beberapa pasien positif Covid 19 di sebuah rumah sakit diharuskan minum obat setiap harinya agar virus tidak menyebar dan membahayakan pasien. Pada kondisi seperti itu bolehkah beberapa pasien tersebut tidak menjalankan ibadah puasa Ramadhan? Berikan alasannya!

5.     Bolehkah saat melaksanakan i’tikaf kita keluar masjid untuk buang hajat? Berikan alasannya!

 Kunci Jawaban Penilaian Akhir Semester

I. Pilihan Ganda

  1. A
  2. A
  3. C
  4. A
  5. A
  6. A
  7. B
  8. C
  9. A
  10. D
  1. D
  2. D
  3. C
  4. A
  5. C
  6. A
  7. B
  8. B
  9. D
  10. A
  1. B
  2. A
  3. B
  4. B
  5. D
  6. C
  7. B
  8. C
  9. B
  10. D
  1. D
  2. A
  3. B
  4. A
  5. C
  6. D
  7. B
  8. C
  9. A
  10. C
  1. C
  2. C
  3. B
  4. D
  5. C

 II. Esai

  1. Tetap mengikuti imam dan tidak kembali duduk tasyahud awal.
  2. Rp 6.662.500,-
  3. Mengqadha puasa dan membayar fidyah.
  4. Boleh tidak berpuasa dan wajib mengqadha setelah sembuh.
  5. Boleh, karena buang hajat merupakan kebutuhan yang dibenarkan.

Artikel keren lainnya:

Pengantar Ulumul Hadis: Pengertian, Ruang Lingkup, dan Sejarah Perkembangan

Pengantar Ulumul Hadis: Pengertian, Ruang Lingkup, dan Sejarah Perkembangan

Ulumul Hadis merupakan salah satu cabang disiplin ilmu agama Islam yang memegang peranan krusial setelah studi Al-Qur'an. Sebagai sumber hukum Islam kedua, hadis Nabi ﷺ memerlukan kaidah khusus untuk menjaga keasliannya dari pemalsuan, kesalahan perawi, maupun kekeliruan pemahaman.

Ulumul Hadis

A. Pengertian Ulumul Hadis

Secara bahasa (etimologi), Ulumul Hadis (عُلُومُ الْحَدِيْثِ) terdiri dari dua kata: 'Ulum bentuk jamak dari ilm yang berarti ilmu-ilmu, dan Al-Hadith yang berarti berita, perkataan, atau hal yang baru.

Secara istilah (terminologi), ilmuwan dan ulama hadis mendefinisikan Ulumul Hadis sebagai:

Ilmu yang membahas kaidah-kaidah untuk mengetahui kondisi sanad (jalur periwayatan) dan matan (isi teks hadis), baik dari segi diterima (diterima/sohih) maupun ditolak (dha'if/palsu).

Secara teknis, ulama membagi Ulumul Hadis menjadi dua disiplin utama:

  • Ilmu Hadis Riwayah: Fokus pada penukilan, pencatatan, dan ketelitian penyampaian segala hal yang disandarkan kepada Nabi ﷺ (perkataan, perbuatan, penetapan, atau sifat).
  • Ilmu Hadis Dirayah: Fokus pada analisa kritis terhadap kaidah, syarat-syarat, serta status perawi dan sifat riwayat untuk menentukan keabsahan suatu hadis.

B. Ruang Lingkup Pembahasan

Studi Ulumul Hadis mencakup beberapa fokus kajian utama yang menjadi pilar penentuan kualitas suatu hadis:

Cabang Utama Berorientasi Sanad (Perawi & Jalur Periwayatan)

  • Ilmu Rijal al-Hadith: Mempelajari sejarah hidup, latar belakang, masa aktif, serta guru dan murid dari para perawi hadis untuk memastikan kebersambungan sanad.
  • Ilmu al-Jarh wa at-Ta'dil: Menganalisis cacat/kelemahan (jarh) atau kredibilitas/pujian (ta'dil) seorang perawi dari segi moral ('adalah) dan ketelitian hafalan (dhabit).
  • Ilmu Tabaqat al-Ruwāt: Pengelompokan para perawi berdasarkan tingkatan generasi (seperti masa Sahabat, Tabi'in, Tabi' ut-Tabi'in) untuk mempermudah pelacakan zaman.
  • Ilmu Tārikh al-Ruwāt: Berfokus spesifik pada tanggal lahir, tempat tinggal, riwayat perjalanan (rihlah), dan tahun wafat perawi guna mendeteksi apakah dua perawi pernah bertemu langsung.

Cabang Utama Berorientasi Matan (Teks Hadis)

  • Ilmu Gharib al-Hadith: Membahas kosakata atau ungkapan bahasa Arab asing, langka, dan sulit dipahami yang terdapat dalam matan hadis.
  • Ilmu Mukhtalif al-Hadith (Ikhtilaf al-Hadith): Mengkaji hadis-hadis yang secara lahiriah tampak bertentangan satu sama lain, serta metode untuk menyelaraskannya (al-jam'u).
  • Ilmu Nasikh wa al-Mansukh: Mempelajari hadis yang menghapus hukum dari hadis sebelumnya (nasikh) dan hadis yang hukumnya telah dihapus atau digantikan (mansukh).
  • Ilmu Asbab Wurud al-Hadith: Mengkaji latar belakang, konteks peristiwa, atau sebab-sebab turunnya suatu hadis Nabi ﷺ.

Cabang Penilaian Kuantitas & Cacat Hadis

  • Ilmu 'Ilal al-Hadith: Salah satu cabang paling rumit yang menganalisis cacat-cacat tersembunyi ('illah) pada sanad maupun matan yang dapat merusak keshahihan hadis, meski tampak luar terlihat shahih.
  • Ilmu Fann al-Tashif wa al-Tahrif: Membahas kekeliruan atau perubahan titik/harakat (tashif) serta perubahan huruf/kata (tahrif) pada penulisan

C. Sejarah Perkembangan Ulumul Hadis

Perkembangan Ulumul Hadis secara historis terbagi ke dalam empat fase utama:

1.     Masa Rasulullah saw & Sahabat

Berjalan secara lisan dan aplikatif. Uji silang (tatsabbut) dan konfirmasi langsung dilakukan oleh Sahabat jika ada riwayat yang diragukan.

2.     Masa Tabi'in (Abad 1-2 H)

Mulai maraknya pemalsuan hadis karena konflik politik. Lahir metode pemeriksaan sanad (isnaad) dan pembukuan resmi hadis pertama pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

3.     Masa Keemasan / Kodifikasi (Abad 3 H)

Penulisan kitab-kitab induk hadis (seperti Kutubus Sittah: Sahih Bukhari, Sahih Muslim, dll.). Kaidah-kaidah ilmu hadis dipakai secara masif meski belum dibukukan terpisah.

4.     Masa Kodifikasi Ulumul Hadis (Abad 4 H - Seterusnya)

Disiplin Ulumul Hadis secara independen resmi dibukukan sebagai ilmu tersendiri.

D. Tokoh Penulis Kitab Ulumul Hadis Pertama

Penulisan ilmu hadis sebagai satu disiplin ilmu yang terpisah dan sistematis dipelopori oleh para ulama besar berikut:

  • Al-Qadhi Abu Muhammad Ar-Ramahurmuzi (w. 360 H): Penulis kitab ilmu hadis mandiri pertama berjudul Al-Muhaddith al-Fashil baina ar-Rawi wa al-Wa'i.
  • Al-Hakim An-Naisaburi (w. 405 H): Mengembangkan penyusunan teori ilmu hadis lewat kitabnya Ma'rifat 'Ulum al-Hadith.
  • Al-Khatib Al-Baghdadi (w. 463 H): Menulis kitab komprehensif aturan periwayatan berjudul Al-Kifayah fi 'Ilm ar-Riwayah.
  • Ibnu al-Salah (w. 643 H): Penulis kitab fenomenal Muqaddimah Ibn al-Salah yang menjadi rujukan utama seluruh kajian Ulumul Hadis hingga masa modern.

Artikel keren lainnya:

Istilah-istilah Ulumul Hadis yang Perlu Diketahui

Dalam ilmu hadis, terdapat banyak istilah teknis yang digunakan untuk mengkategorikan, mengevaluasi, dan memahami hadis. Berikut beberapa istilah penting beserta pengertiannya:

1. Hadis

Pengertian: Ucapan, perbuatan, dan persetujuan (taqrir) Nabi Muhammad SAW yang dijadikan sumber hukum Islam.

2. Sanad

Pengertian: Rantai perawi (orangorang yang meriwayatkan hadis) dari Nabi Muhammad SAW hingga ke perawi terakhir yang mencatat hadis tersebut. Sanad sangat penting dalam menentukan keabsahan sebuah hadis.

3. Matan

Pengertian: Isi atau teks hadis itu sendiri, yaitu apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.

4. Rawi

Pengertian: Individu yang meriwayatkan hadis. Keandalan seorang rawi dalam menyampaikan hadis sangat menentukan keabsahan hadis tersebut.

5. Shahih

Pengertian: Hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil dan kuat hafalannya (dhabit), tidak mengandung kejanggalan (syaz), dan tidak memiliki cacat (illah).

6. Hasan

Pengertian: Hadis yang hampir mirip dengan hadis shahih, tetapi perawinya sedikit kurang dari segi hafalan atau kekuatan ingatan. Hadis hasan tetap diterima sebagai dalil dalam hukum Islam.

7. Dhaif

Pengertian: Hadis yang sanadnya tidak bersambung, atau diriwayatkan oleh perawi yang tidak kuat hafalannya, tidak adil, atau terdapat cacat (illah) dan kejanggalan (syaz). Hadis dhaif tidak dijadikan sebagai dalil dalam penetapan hukum.

8. Mutawatir

Pengertian: Hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi pada setiap tingkatan sanadnya, sehingga mustahil mereka sepakat untuk berdusta. Hadis mutawatir dipandang sangat kuat dan pasti.

9. Ahad

Pengertian: Hadis yang diriwayatkan oleh satu atau beberapa orang, tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir. Hadis ahad dibagi lagi menjadi tiga, yaitu hadis masyhur, aziz, dan gharib.

10. Masyhur

Pengertian: Hadis yang diriwayatkan oleh tiga atau lebih perawi pada setiap tingkatan sanad, tetapi tidak mencapai jumlah perawi hadis mutawatir.

11. Aziz

Pengertian: Hadis yang diriwayatkan oleh dua perawi pada setiap tingkatan sanadnya.

12. Gharib

Pengertian: Hadis yang diriwayatkan oleh satu perawi pada satu atau lebih tingkatan sanadnya.

13. Mursal

Pengertian: Hadis yang sanadnya terputus di tingkat tabi'in, yaitu perawi yang meriwayatkan hadis langsung dari Nabi Muhammad SAW tanpa menyebutkan sahabat yang meriwayatkannya.

14. Mu'allaq

Pengertian: Hadis yang sanadnya terputus di awal sanad, biasanya tidak disebutkan perawi di tingkat awal.

15. Mudallas

Pengertian: Hadis yang salah satu perawinya menyembunyikan cacat pada sanadnya, misalnya dengan menyembunyikan nama perawi yang lemah atau menyamarkan sanad.

16. Maudhu'

Pengertian: Hadis palsu yang dibuatbuat dan disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW tanpa dasar yang valid. Hadis maudhu' tidak boleh digunakan dalam hukum Islam.

17. Marfu'

Pengertian: Hadis yang sanadnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

18. Mawquf

Pengertian: Hadis yang sanadnya hanya sampai kepada sahabat, bukan kepada Nabi Muhammad SAW.

19. Munqati'

Pengertian: Hadis yang sanadnya terputus di salah satu perawi di tingkatan manapun selain dari sahabat.

20. Mudraj

Pengertian: Hadis yang dalam matannya terdapat tambahan dari perawi yang bukan bagian dari ucapan Nabi Muhammad SAW.

Artikel keren lainnya:

Isim Fi'il: Pengertian, Pembagian, dan Contohnya dari Al-Qur'an & Hadis

Isim Fi’il: Kata yang Bermakna Fi’il dalam Bahasa Arab

Dalam bahasa Arab, kita mengenal tiga kelompok kata utama, yaitu isim (اِسْمٌ), fi’il (فِعْلٌ), dan ḥarf (حَرْفٌ). Namun, dalam pembahasan ilmu nahwu terdapat satu bentuk kata yang cukup unik, yaitu isim fi’il (اِسْمُ الْفِعْلِ).

Isim Fi'il

Namanya memang mengandung kata isim dan fi’il, tetapi isim fi’il bukanlah gabungan antara isim dan fi’il. Istilah ini merujuk kepada suatu kata yang secara bentuk termasuk isim, tetapi memberikan makna seperti fi’il dan dapat menjalankan fungsi yang dijalankan oleh fi’il.

Contohnya:

صَهْ

“Diamlah!”

Kata (صَهْ) bukan fi’il amr seperti (اُسْكُتْ). Akan tetapi, maknanya sama yaitu diam/berhentilah berbicara, sehingga kata tersebut disebut isim fi’il amr.

1. Pengertian Isim Fi’il

Secara bahasa, isim fi’il (اِسْمُ الْفِعْلِ) berarti “kata benda yang menunjukkan makna kata kerja”.

Secara istilah, isim fi’il adalah:

كَلِمَةٌ تَدُلُّ عَلَى مَعْنَى الْفِعْلِ، وَلَا تَقْبَلُ عَلَامَاتِهِ

“Suatu kata yang menunjukkan makna fi’il, tetapi tidak menerima tanda-tanda fi’il.”

Jadi, ada dua karakter utama:

  1. Maknanya seperti fi’il.
  2. Tidak menerima tanda-tanda yang biasa dimiliki fi’il.
  3. Bersifat mabnī.

Pertanyaan yang sering muncul adalah:

“kalau maknanya fi’il, mengapa disebut isim?”

Karena kata tersebut tidak memiliki karakteristik fi’il secara bentuk, tetapi maknanya menunjukkan pekerjaan atau tindakan seperti fi’il.

Perhatikan:

Arti

Makna Fi’il

Isim Fi’il

Diamlah!

اُسْكُتْ

صَهْ

Berhentilah!

اِمْتَنِعْ / اِنْكَفِفْ

مَهْ

Jauh/sangat jauh

بَعُدَ

هَيْهَاتَ

Kabulkanlah!

اِسْتَجِبْ

آمِينَ

Kemarilah!

تَعَالَ / أَقْبِلْ

هَلُمَّ

 

Dengan demikian, isim fi’il memiliki makna seperti fi’il, tetapi bentuknya tidak mengikuti pola fi’il biasa.

2. Pembagian Isim Fi’il Berdasarkan Maknanya

Isim fi’il dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama berdasarkan makna waktu atau jenis fi’il yang diwakilinya.

a. Isim Fi’il Māḍī (اِسْمُ فِعْلِ الْمَاضِي)

Isim fi’il māḍī adalah isim fi’il yang menunjukkan makna seperti fi’il māḍī, yaitu sesuatu yang telah terjadi.

Contoh paling terkenal:

هَيْهَاتَ

Artinya (بَعُدَ): “Telah jauh” atau “sangat jauh.”

Contoh dalam Al-Qur’an:

هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ لِمَا تُوعَدُونَ

“Jauh, jauh sekali apa yang diancamkan kepada kalian.” QS. Al-Mu’minūn [23]: 36.

b. Isim Fi’il Muḍāri’ (اِسْمُ فِعْلِ الْمُضَارِعِ)

Isim fi’il muḍāri’ adalah isim fi’il yang menunjukkan makna seperti fi’il muḍāri’.

Salah satu contohnya adalah:

أُفٍّ

Kata (أُفٍّ) digunakan untuk menunjukkan rasa tidak suka, keluhan, kejengkelan, atau rasa kesal.

Dalam konteks tertentu, maknanya dapat dipahami seperti (أَتَضَجَّرُ) yang artinya “Aku merasa kesal/jengkel.”

Contoh dari Al-Qur’an:

فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا

“Maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya.” QS. Al-Isrā’ [17]: 23.

c. Isim Fi’il Amr (اِسْمُ فِعْلِ الْأَمْرِ)

Isim fi’il amr adalah isim fi’il yang memberikan makna seperti fi’il amr, yaitu perintah.

Contohnya:

صَهْ

Artinya (اُسْكُتْ) atau “Diamlah!”

Contoh lainnya:

مَهْ

Artinya (اِنْكَفِفْ) yang artinya “Berhentilah!”

3. Contoh Isim Fi’il

Arti

Makna Fi’il

Isim Fi’il

Jauh/telah jauh

بَعُدَ

هَيْهَاتَ

Kabulkanlah! / Dengarkanlah!

اِسْتَجِبْ / اِسْمَعْ

آمِينَ

Kemarilah!

أَقْبِلْ

حَيَّ

Cepatlah!

أَسْرِعْ

هَيَّا / هَيْكَ

Kemarilah! / Cepatlah!

أَسْرِعْ / أَقْبِلْ

هَيْتَ

Telah terjadi dengan cepat

أَسْرَعَ

سَرْعَانَ

Telah terlambat/lambat

بَطُؤَ

بُطْآنَ

Telah berpisah/jauh perbedaannya

بَعُدَ / افْتَرَقَ

شَتَّانَ

Aku merasa sakit

أَتَوَجَّعُ

آهِ

Aku mengeluh/merasa sakit

أَتَوَجَّعُ

أَوَّاهِ

Diamlah!

اُسْكُتْ

صَهْ

Berhentilah!

كُفَّ / اِنْكَفِفْ

مَهْ

Pelan-pelanlah!

تَمَهَّلْ / أَمْهِلْ

رُوَيْدَكَ

Kemarilah!

تَعَالَ / أَقْبِلْ

هَلُمَّ

Datanglah/kemarilah!

أَقْبِلْ

حَيَّ

Cepatlah!

أَسْرِعْ

هَيَّا

Tinggalkanlah!

اُتْرُكْ / دَعْ

بَلْهَ

Ambillah!

خُذْ

هَاكَ

Ambillah!

خُذْ

دُونَكَ

Lanjutkanlah!/Tambahkanlah!

زِدْ / اسْتَمِرَّ

إِيهِ

Dengarkanlah!/Ceritakanlah!

اسْتَمِعْ / حَدِّثْ

إِيهِ

Berhentilah!/Tinggalkanlah!

كُفَّ / اُتْرُكْ

تَرَاكَ

Waspadalah!

اِحْذَرْ

حَذَارِ

Turunlah!

اِنْزِلْ

نَزَالِ

Dengarkanlah!

اِسْمَعْ

سَمَاعِ

Doronglah!

اِدْفَعْ

دِفَاعِ

Pukullah!

اِضْرِبْ

ضِرَابِ

Tulislah!

اُكْتُبْ

كِتَابِ

Minumlah!

اِشْرَبْ

شِرَابِ

Lihatlah!/Tunggulah!

اُنْظُرْ / اِنْتَظِرْ

نَظَارِ

Jagalah!/Tetapilah!

اِلْزَمْ

عَلَيْكَ

Menjauhlah dariku!

اِبْتَعِدْ

إِلَيْكَ عَنِّي

Maju/teruslah!

تَقَدَّمْ

أَمَامَكَ

Kemarilah!

تَعَالَ / أَقْبِلْ

هَلُمَّ

Datangkanlah! / Hadirkanlah!

أَحْضِرْ

هَلُمَّ

Ambillah kalian!

خُذُوا

هَاؤُمُ

Diamlah!

اُسْكُتْ

صَهْ

Tambahkanlah! / Lanjutkanlah!

زِدْ / اِسْتَمِرَّ

إِيهِ

Berhentilah! / Diamlah!

كُفَّ / اُسْكُتْ

مَهْ

Pelan-pelanlah!

تَمَهَّلْ / أَمْهِلْ

رُوَيْدَ / رُوَيْدَكَ

Tinggalkanlah!

اُتْرُكْ / دَعْ

بَلْهَ

Ambillah!

خُذْ / تَنَاوَلْ

هَاكَ / هَاءَ / هَا

Ambillah!

خُذْ

دُونَكَ

Aku merasa sakit

أَتَأَلَّمُ

حُسّ

Pelan-pelanlah!

تَمَهَّلْ / اِتَّئِدْ

تَيْدَ / تَيْدَكَ / تَيْدَخْ

Kemarilah! / Majulah!

أَقْبِلْ / تَقَدَّمْ

هَيَّهَلْ / هَيْهَلَكَ / هَيْهَلَا

Tampilkanlah dirimu! / Muncullah!

اُبْرُزْ

حُدَيَّاكَ

Cukuplah!

اِكْتَفِ

بَسْ

Bersegeralah!

أَسْرِعْ

النَّجَاءَكَ

Berhentilah! / Menjauhlah!

كُفَّ / اِبْتَعِدْ

إِيْهَا

Biarlah aku menjadi tebusanmu!

لِيَفْدِكَ

فِدَاءَ

Cukuplah!

اِكْتَفِ

قَدْكَ / قَطْكَ

Berhentilah! / Tahanlah!

أَمْسِكْ

كَذَاكَ

Perlahanlah! / Bersabarlah!

تَمَهَّلْ

هَدَادَيْكَ

 

4. Contoh Isim Fi’il dalam Al-Qur’an dan Hadis

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” QS. Al-Mā’idah [5]: 105.

Dalam ungkapan:

عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ

Kata (عَلَيْكُمْ) dipahami sebagai isim fi’il amr dengan makna:

اِلْزَمُوا أَنْفُسَكُمْ

“Jagalah/peganglah dirimu.”

Contoh lainnya terdapat dalam Al-Qur’an:

وَالْقَائِلِينَ لِإِخْوَانِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا

“Dan mereka yang berkata kepada saudara-saudara mereka, ‘Marilah kepada kami...’” QS. Al-Aḥzāb [33]: 18.

Kata (هَلُمَّ) merupakan isim fi’il amr menurut bahasa Hijaz, dengan makna seperti (تَعَالَ) “Kemarilah!” atau (أَقْبِلْ) “Datanglah!”

Contoh Isim Fi’il dalam Hadis

Dalam hadis tentang telaga (al-ḥawḍ), Nabi ﷺ digambarkan berseru:

أَلَا هَلُمَّ

yang bermakna

أَلَا تَعَالَوْا

“Mari datanglah!”

***

Semoga postingan ini bermanfaat bagi para pembaca. Yang memerlukan materi ini, silakan copy paste saja!

Artikel keren lainnya: